Asing Borong Diam-Diam Saham BRI Saat Harga Tertekan

Rahmat Rinaldi - Selasa, 09 Juni 2026 10:06 WIB
Asing Borong Diam-Diam Saham BRI Saat Harga Tertekan
Foto: BRI
Kantor PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) atau BRI.

JAKARTA – Saham PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) kembali mengalami tekanan jual pada perdagangan Senin (8/6/2026). Saham bank pelat merah tersebut ditutup melemah 5,47% ke level Rp2.590 per saham, memperpanjang tren penurunan yang telah berlangsung sejak 3 Juni 2026.

Data perdagangan menunjukkan sebanyak 626,88 juta saham BBRI berpindah tangan dengan frekuensi transaksi mencapai 108.280 kali dan nilai transaksi sebesar Rp1,66 triliun. Pada perdagangan tersebut, investor asing tercatat melakukan aksi jual bersih (net sell) senilai Rp298,49 miliar.

Tekanan jual asing juga terlihat dalam sepekan terakhir. Sejak 3 hingga 8 Juni 2026, saham BBRI telah terkoreksi 12,20%, sementara investor asing membukukan net sell mencapai Rp1,33 triliun.

Meski demikian, di tengah derasnya aksi jual, terdapat indikasi akumulasi oleh investor asing melalui broker tertentu. Berdasarkan data aplikasi Stockbit Sekuritas, broker Mandiri Sekuritas mencatatkan net buy investor asing sebesar Rp254,5 miliar di saham BBRI dengan harga rata-rata Rp2.654 per saham.

Aksi beli tersebut mengindikasikan bahwa sebagian investor institusi mulai memanfaatkan koreksi harga untuk melakukan akumulasi, meskipun secara keseluruhan aliran dana asing masih menunjukkan tekanan keluar dari saham BBRI.

Dari sisi teknikal, CGS International Sekuritas memproyeksikan level support pertama BBRI berada di area 2.537 dan support kedua di 2.483 untuk perdagangan Selasa (9/6/2026).

Sementara itu, peluang rebound mulai terbuka apabila saham BBRI mampu menembus level pivot di 2.643. Jika berhasil bergerak di atas level tersebut, saham berpotensi menguji resistance pertama di 2.697 dan resistance kedua di 2.803.

Pelaku pasar kini mencermati apakah aksi akumulasi yang dilakukan sebagian investor asing dapat menjadi sinyal awal pembalikan arah harga, atau justru tekanan jual masih akan berlanjut seiring tingginya arus keluar dana asing dari saham perbankan berkapitalisasi besar tersebut. (*)

SHARE:
Tags
Berita Terkait
Komentar
Berita Terbaru