Sejarah Stasiun Gambir Semula Bernama Stasiun Batavia Koningsplein

datanews.id - Kamis, 13 April 2023 17:10 WIB
Sejarah Stasiun Gambir Semula Bernama Stasiun Batavia Koningsplein
Foto: detik.com

datanews.id - Stasiun Gambir menjadi salah satu titik mudik di Jakarta.

Ternyata stasiun ini merupakan peninggalan kolonialisme Belanda yang punya banyak sejarah Jakarta.

Pembangunan Stasiun Gambir diusulkan pimpinan Hindia Belanda saat itu Gubernur Jenderal Hindia Belanda J. J. Rochussen.

Dikutip dari situs resmi KAI, Gagasan pembangunan jalur kerata api di Batavia (Jakarta) mencuat tahun 1846.

Adapun, J.J Rochussen menyarankan pembangunan Stasiun Gambir untuk kepentingan ekonomi serta politik dan komunikasi pemerintahan.

Ditinjau dari segi ekonomi, keberadaan layanan kereta api sebagai pengangkutan komoditas, utamanya perkebunan dari pedalaman di Priangan ke pelabuhan di Jakarta.

Sedang dari sudut politik, terdapat Gedung Algemeene Secretarie yang saat ini Istana Bogor di Bogor yang merupakan tempat kedudukan Gubernur Jenderal Hindia Belanda dan pusat administrasi pemerintahan.

Kemudian dua dekade kemudian, gagasan pembangunan jalur kereta api di Jakarta akhirnya terealisasi.

Adapun pembangunan Stasiun Gambir berikut jalurnya diserahkan kepada perusahaan kereta api swasta, Nederlandsch Indisch Spoorweg Maatschapij (NISM) pada tahun 1854.

NISM mendapatkan konsesi pembangunan berdasar surat keputusan Gubernur Jenderal Hindia Belanda (Gouvernement atau GB) Nomor 1 tanggal 27 Maret 1864 dan Nomor 1 tanggal 19 Juni 1865 serta surat keputusan Raja Belanda (Koninklijk Besluit) tanggal 22 Juli 1868.

Jumat, 15 Oktober 1869 dimulai pembukaan pembangunan jalur kereta api Jakarta-Bogor. Pembukaan ditandai melalui upacara yang dihadiri Gubernur Jenderal P. Myer.

Bordes yang terbagi menjadi tiga bagian, yakni Jakarta-Weltevreden, Weltevreden-Meester Cornelis, dan Meester Cornelis-Bogor

Sebagai tempat perhentian di Weltevreden, NISM membangun Halte Koningsplein sebuah bangunan kecil yang sederhana.

Penamaan Koningsplein karena semasa kolonial Belanda halte sederhana ini berada di tepi timur Koningsplein atau Lapangan Raja (saat ini Kawasan Silang Monas).

Lokasi halte ini cukup strategis, dekat dengan kawasan perbelanjaan Noordwijk (kini daerah Juanda) dan Pasar Baru.

Dalam perkembangannya, NISM membangun sebuah perhentian baru di Weltevreden.

Adalah Stasiun Weltevreden yang dibuka pada 4 Oktober 1884, terletak beberapa ratus meter arah utara dari Halte Koningsplein.

Titik Stasiun Weltevreden dipercaya menjadi titik Stasiun Gambir saat ini.

Keberadaan Stasiun Weltevreden otomatis mengganti peranan Halte Koningsplein.

Stasiun baru ini memiliki atap besi yang ditopang tiang besi cor. Stasiun ini melayani perjalanan kereta jarak jauh seperti Bandung dan Surabaya.

Kemudian di tahun 1928 Stasiun Weltevreden diperbesar dan dirancanag memiliki halaman depan yang lebih luas.

Perubahan juga dilakukan sepenuhnya di emplasemen stasiun.

Sepuluh tahun kemudian, pada tahun 1928 Stasiun Weltevreden mengalami metamorphosis, menjadi bangunan bergaya art deco.

Di sisi utara stasiun dilakukan perpanjangan atap sepanjang 55 meter.

Semula, kereta api diharuskan menginap di Stasiun Weltevreden serta adanya tempat mencuci kereta dan gerbong kereta api.

Sejak tahun 1937, Stasiun Weltevreden menjadi stasiun tersebut di Hindia Belanda. Hampir seluruh kereta jarak jauh utama dan semua kereta ke Bogor singgah di stasiun ini.

Nama Stasiun Weltevreden diganti menjadi Stasiun Batavia Koningsplein. Seiring berjalannya waktu, Stasiun Batavia Koningsplein kerap disebut dengan Stasiun Gambir.

Belum diketahui pasti kapan awal mula Stasiun Batavia Koningsplein berubah nama jadi Stasiun Gambir.

Namun diduga penamaan Stasiun Gambir sudah muncul sejak tahun 1922.

Saat itu masyarakat menyebut Koningsplein dengan Lapangan Gambir, konon kabarnya karena di lapangan tersebut tumbuh Pohon Gambir.

Pohon yang getahnya dapat disadap sebagai bahan baku pembuat gambir, salah satu bumbu untuk menyirih.

Stasiun Gambir tidak mengalami perubahan bentuk setelah kemerdekaan Indonesia hingga pada pertengahan dasawarsa 1980-an.

Adapun renovasi besar-besaran Stasiun Gambir dilakukan oleh Presiden Soeharto.

Pada 5 Juni 1992, Presiden Soeharto beserta ibu negara Siti Hartinah dan jajaran pemerintahan meresmikan Stasiun Gambir baru dengan menaiki KRL dari Stasiun Gambir menuju Stasiun Jakarta Kota.

Terdapat 4 jalur di Stasiun Gambir saat sudah menjadi jalur layang, dan bangunan stasiun ini sepenuhnya modern dengan sentuhan panel berwarna hijau pupus yang sampai hari ini masih dipertahankan.

Warna cat tidak mengalami perubahan, hanya tiang peron saja yang mengalami pewarnaan ulang menjadi hijau lumut.

Proyek ini telah menghabiskan dana sebesar Rp432,5 miliar rupiah dan belum sepenuhnya selesai pada saat diresmikan, hingga akhirnya bisa beroperasi penuh setahun kemudian.

Setelah pembangunan stasiun layang selesai, jalur kereta di bawah mulai dicabut dan kawasan yang pada awalnya merupakan emplasemen Stasiun Gambir lama sudah beralih menjadi halaman parkir mobil mulai tahun 1994.

Stasiun Gambir hingga kini hanya melayani kereta antarprovinsi. Selain itu Stasiun Gambir adalah stasiun terminus bagi kereta api kelas eksekutif dan sebagian kecil kelas campuran (KA Argo Parahyangan dan Argo Cheribon) dari wilayah Jabodetabek menuju ke berbagai jurusan di Jawa.

Stasiun ini kini dilengkapi dengan Rail Transit Suite, yaitu hotel transit khusus untuk para penumpang kereta api yang hendak beristirahat.

Sejak Lebaran 2012, stasiun ini tidak melayani pemberhentian KRL Commuter Line.

Sedangkan untuk sebagian kereta api kelas campuran dan kelas ekonomi, serta sebagian perjalanan KRL Commuter Line dilayani di Stasiun Pasar Senen.

Di Stasiun Gambir tersedia layanan bus DAMRI yang mana salah satu rute yang dimilikinya menuju Bandara Soekarno-Hatta.

Persis di pintu keluar Stasiun Gambir juga terdapat Halte Transjakarta Gambir yang bisa mengantar ke penjuru kota Jakarta.

Namun di tahun 2022, ada wacana Stasiun Gambir akan dikhususkan untuk pemberangkatan dan kedatangan KRL.

Diprediksi pengalihan fungsi stasiun Gambir menjadi lintas pelayanan KRL masih dilakukan pada 2025 mendatang.

Rencananya sebagai pengganti Stasiun Gambir, Stasiun Manggarai menjadi stasiun sentral yang melayani kereta jarak jauh.

Source: Tribunbekasi.com

SHARE:
Tags
Berita Terkait
Komentar
Berita Terbaru