Ada Apa dengan Bulan Sya’ban
Adapun tentang amalan tertentu di malam Nishfu Sya'ban, maka tidak ada hadits yang shahih tentangnya.Seluruh hadits yang menyebutkan tentang amalan di malam Nishfu Sya'ban adalah hadits yang maudhu' (palsu) dandha'if (lemah).Sehingga, tidak ada amalan khusus apapun di malam ini, baik itu membaca Al-Qur-an (Tadarusan), shalat Alfiyah, do'a jama'ah, dan sebagainya.Inilah pendapat dari kebanyakan ulama, dan ini adalah pendapat yang benar.Wallaahul Muwaffiq.
Mudah-mudahan penjelasan tentang bulan Sya'ban ini bermanfaat bagi penulis dan kaum Muslimin.[30]
Semoga shalawat dan salam tetap tercurah kepada Nabi Muhammad Shallallahu 'alaihi wa sallam, keluarganya, para Shahabatnya, dan orang-orang yang mengamalkan dan membela Sunnah beliau sampai akhir zaman.
وَصَلَّى اللهُ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّم
Footnote
[1] Lihat Lisanul 'Arab dan Fat-hul Baari (IV/251).
[2] Shahih: HR. Al-Bukhari (no. 1969) dan Muslim (no. 1156 (175)).
[3] Shahih: HR. al-Bukhari (no. 1970)) dan Muslim (no. 782).
[4] Shahih: HR. Ahmad (VI/188), Abu Dawud (no. 2431), an-Nasaa-i (IV/199), Ibnu Khuzaimah (no. 2077), dan al-Hakim (I/434).
[5] Hasan: HR. An-Nasaa-i (IV/201), Ahmad (V/201), dan dihasankan oleh Syaikh al-Albani dalam Silsilah al-Ahaadiits ash-Shahiihah (no. 1898).
[6] Lihat Lathaaiful Ma'aarif (hlm. 258).
[7] Shahih: HR. Abu Dawud (no. 2337), at-Tirmidzi (no. 738), ad-Darimi (II/17), Ibnu Majah (no. 1651), Ahmad (II/442), dan lainnya. At-Tirmidzi berkata: Hadits ini hasan Shahih. Lihat Shahiih Sunan Abi Dawud (no. 2025).
[8] Fathul Baari (IV/129), Syarah Ma'aanil Aatsaar (II/84-85), dan Fathu Dzil Jalaalil wal Ikraam bi Syarhi Buluughil Maraam (VII/449).
[9] Shahih: HR. al-Bukhari (no. 1914)) dan Muslim (no. 1082).
[10] Shahih: Syaikh al-Albani rahimahullah berkata, "Hadits shahih, diriwayatkan dari beberapa orang Shahabat dengan beragam jalan yang saling menguatkan antara satu dengan lainnya. Di antaranya, Mu'adz bin Jabal, Abu Tsa'labah al-Khusyani, 'Abdullah bin 'Amr, Abu Musa al-Asy'ari, Abu Hurairah, Abu Bakr ash-Shiddiq, 'Auf bin Malik, juga 'Aisyah Radhiyallahu anha"Lihat Silsilah al-Ahaadiits ash-Shahiihah (III/135-139, no. 1144).
[11] Hasan: HR. Al-Baihaqi dalam Syu'abul Iman (V/359, no. 3551) dan Ibnu Abi 'Ashim (no. 523),dari Abu Tsa'labah al-Khusyani Radhiyallahu anhu. Lihat Shahiihul Jaami' (no. 771).
[12] Hasan: HR. Ibnu Majah (no. 1390), dari Abu Musa al-Asy'ari Radhiyallahu anhu. Lihat Shahiihul Jaami' (no. 1819).
[13] Lihat takhrij kitab al-Ihya'(I/164), Tadzkirah al-Madhuu'aat (I/312), Dha'iif Ibnu Majah (no. 294), Silsilah adh-Dha'iifah (no. 2132), Misykaatul Ma-shaabiih (1308), dan Dha'iif at-Targhiib (no. 623).
[14] At-Tahdziir minal Bida' (hlm. 15-16).
[15] Al-Amru bil Ittiba' (hlm. 178).
[16] Al-Maudhuu'aat (II/129), cet. Daarul Kutub al-'Ilmiyyah.
[17] Iqtidhaa' ash-Shiraathal Mustaqiim (II/138).
[18] Al-Maudhuu'aat (II/51), cet. Daarul Kutub al-'Ilmiyyah.
[19] Al-Manarul Muniif (hlm. 98-99), tahqiq 'Abdul Fattah Abu Ghuddah.
[20] Shahih: HR. Abu Dawud (no. 2431), dan lainnya. Dishahihkan oleh Syaikh al-Albani dalam Shahih Sunan Abi Dawud (VII/2101).
[21] Hasan: HR. An-Nasa-i (IV/201), Ahmad (V/201), dan dihasankan oleh Syaikh al-Albani dalam Silsilah al-Ahaadiits ash-Shahiihah (no. 1898).
[22] Hasan: HR. An-Nasa-i (IV/201). Dihasankan oleh Syaikh al-Albani dalam Shahiih at-Targhiib wat Tarhiib (I/595, no. 1022).
[23] Shahih: HR. Al-Bukhari (no. 731, 6113, 7290), Muslim (no. 781), Ahmad (V/182, 187), Abu Dawud (no. 1447), ad-Darimi (I/317), Ibnu Khuzaimah (no. 1204), dan Ibnu Hibban (no. 2482–At-Ta'liiqaatul Hisaan). Lafazh ini milik Muslim.
[24] Dalam hadits ini dianjurkan untuk mengerjakan shalat-shalat sunnat di rumah, adapun shalat wajib lima waktu dikerjakan di masjid dengan berjama'ah. Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam dalam kondisi sakit pun tetap mengimami para Shahabat Radhiyallahu anhum. Kecuali di akhir hayatnya, beliau menyuruh Abu Bakar ash-Shiddiq Radhiyallahu anhu menjadi imam menggantikan Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam.
[25] Shahih: HR. Al-Bukhari (no. 1950) dan Muslim (no. 1146).
[26] Lathaa-iful Ma'aarif fiimaa Limawaasimil 'Aam minal Wazhaa-if (hlm. 258-259) karya al-Hafizh Ibnu Rajab V, tahqiq: Yasin Muhammad as-Sawaas, cet. V, th. 1420 H, Daar Ibnu Katsir–Beirut.
[27] Tafsiir Ibnu Katsir (VII/246), cet. Daar Thaybah.
[28] Tafsiir Ibnu Katsir (VII/246), cet. Daar Thaybah.
[29] Shahih: HR. Muslim (no. 976 (108)), Abu Dawud (no. 3234), an-Nasa-i (IV/90), dan lainnya.
[30] Bila anda ingin tahu tentang amalan sunnah dan amalan bid'ah pada bulan-bulan Hijriyah, silahkan baca buku "AMALAN SUNNAH SETAHUN" penerbit Khazanah Fawa-id-Depok, cet. Ke-3 1440 H/Juli 2019 M.
Sumber: almanhaj.or.id
Buka Bersama, Bupati Pidie Santuni Anak Yatim
Anjuran Untuk Bersahur dan Keutamaanya
Penentuan Ramadhan Bersama Pemerintah
Perkara yang Dibolehkan dan Dilarang Ketika Berpuasa
Menyambut Bulan Ramadhan