Penaklukan Konstantinopel

Rio Agusri - Sabtu, 16 November 2024 05:00 WIB
Penaklukan Konstantinopel
Ilustrasi (Foto int)

Ahmad Syakir rahimahullah berkata, "Penaklukan Konstantinopel yang merupakan sebagai kabar gembira dalam hadits ini akan terjadi di kemudian hari, cepat ataupun lambat, hanya Allahlah yang mengetahuinya. Ia adalah penaklukan yang benar (adanya) ketika kaum muslimin kembali kepada agamanya, padahal sebelumnya mereka menolaknya. Adapun penaklukan yang dilakukan bangsa Turk yang terjadi sebelum zaman kita ini, maka hal itu hanya sebagai pembuka bagi penaklukan yang terakhir (paling besar). Kemudian kota ini keluar dari kekuasaan kaum muslimin ketika pemerintahan di sana telah mengumumkan bahwa pemerintahannya bukanlah pemerintahan Islam dan bukan pemerintahan agama. Mereka telah melakukan perjanjian dengan orang-orang kafir, musuh-musuh Islam, dan memberlakukan undang-undang kafir terhadap penduduknya. Penaklukan yang dilakukan oleh kaum muslimin akan kembali dilakukan insya Allah, sebagaimana dikabarkan oleh Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam."[11]

Footnote

[1] Kota bangsa Romawi, dinamakan Konstantinopel, yaitu sebuah kota yang terkenal pada zaman sekarang dengan nama Istanbul, satu kota di Turki. Pada masa lalu terkenal dengan sebutan Bizan-tium, kemudian ketika raja tertinggi Bizantium memimpin Romawi, dia membangun pagar di sana dan menamakannya dengan sebutan Konstantinopel dan menjadikannya sebagai ibu kota bagi kerajaannya. Daerah tersebut memiliki teluk yang mengelilingi dua sisi, sebelah timur dan utara (di lautan), dan kedua sisinya yang lain, yaitu sebelah barat dan selatan adalah di daratan.
Lihat kitab Mu'jamul Buldaan (IV/347-348), karya Yaqut al-Hamawi.
[2] Dia adalah Tsaur bin Zaid ad-Daili mawali mereka adalah al-Madani, tsiqah, wafat pada tahun (135 H) t.
Lihat Shahiih Muslim (XVIII/43, an-Nawawi), dan Tahdziibut Tahdziib (II/ 31-32).
[3] Shahiih Muslim, kitab al-Fitan wa Asyraatus Saa'ah (XVIII/43-44, Syarh an-Nawawi).
[4] Lihat an-Nihaayah/al-Fitan wal Malaahim (I/58) tahqiq Dr. Thaha Zaini.
[5] Syarh an-Nawawi li Shahiih Muslim (XVIII/43-44).
[6] Shahiih Muslim, kitab al-Fitan wa Asyraathus Saa'ah (XVIII/22, Syarh an-Nawawi).
[7] Shahiih Muslim (XVIII/21, Syarh an-Nawawi).
[8] Syarah an-Nawawi li Shahiih Muslim (XVIII/21).
[9] Jaami' at-Tirmidzi, bab Maa Jaa-a fii 'Alaamatil Khuruujid Dajjal (VI/498).
[10] Lihat an-Nihaayah fil Fitan wal Malaahim (I/62) tahqiq Dr. Thaha Zaini.
[11] Hasyiyah 'Umdatut Tafsiir 'an Ibni Katsir (II/256) diringkas dari ditahqiq oleh Ahmad Syakir.

Sumber : almamhaj.or.id

SHARE:
Tags
Berita Terkait
Komentar
Berita Terbaru