Gharqad, Pohon Yahudi

Oleh: Ustadz Abu Humaid Arif Syarifuddin Lc
Rio Agusri - Kamis, 25 Januari 2024 06:33 WIB
Gharqad, Pohon Yahudi
Pohon Ghorqod.

Beliau rahimahullah juga menerangkan, kunci kembalinya kejayaan (kemuliaan) Islam ialah dengan menerapkan ilmu yang bermanfaat dan mengerjakan amal shalih. Demikian ini suatu perkara mulia, yang tidak mungkin dicapai kaum Muslimin kecuali dengan menjalankan metode tashfiyah (pemurnian) dan tarbiyah (pendidikan, pengajaran)[15]. Yakni, dalam urusan aqidah maupun yang lainnya dari urusan-urusan agama ini.

3. Kata-kata (حَتَّى يَخْتَبِئَ الْيَهُودِيُّ مِنْ وَرَاءِ الْحَجَرِ وَالشَّجَرِ) yang artinya, sampai-sampai setiap orang Yahudi bersembunyi di balik batu dan pohon ….
Hal ini menunjukkan terdesaknya kaum Yahudi ketika kaum Muslimin menyerang mereka, hingga mereka pun mencari tempat-tempat persembunyian.

4. Kata-kata فَيَقُولُ الْحَجَرُ أَوْ الشَّجَرُ … (tetapi batu dan pohon itu berkata …).
Al Hafizh Ibnu Hajar berkata,"Dalam hadits ini terdapat (berita) adanya tanda-tanda menjelang datangnya hari kiamat. Di antaranya, berbicaranya benda-benda mati, seperti pohon dan batu. Dan berdasarkan lahirnya, adalah berbicara secara hakiki, meskipun ada kemungkinan adanya makna kiasan. Maksudnya, bersembunyi (di balik benda-benda tersebut) tidak bermanfaat bagi mereka (Yahudi). Tetapi, (makna) yang pertama (secara lahiriyah) adalah lebih utama."[16]

Dalam hadits Abu Umamah Radhiyallahu 'anhu terdapat kalimat sebagai berikut:

فَلاَ يَبْقَى شَيْءٌ مِمَّا خَلَقَ اللهُ يَتَوَارَى بِهِ يَهُودِيٌّ إِلاَّ أَنْطَقَ اللهُ ذَلِكَ الشَّيْءَ لاَ حَجَرٌ وَلاَ شَجَرٌ وَلاَ حَائِطٌ وَلاَ دَابَّةٌ …

Maka tidak ada satupun ciptaan Allah yang dijadikan tempat persembunyian Yahudi, melainkan Allah jadikan ia berbicara, baik batu, pohon, tembok maupun hewan …

Hal ini menunjukkan bahwa, Allah Maha kuasa atas segala sesuatu dengan kehendakNya yang sempurna. Dan apa yang dikuatkan oleh al Hafizh Ibnu Hajar di atas telah didukung dengan banyak dalil, baik dari al Qur`an maupun as Sunnah.

5. Kata-kata إِلاَّ الْغَرْقَدَ فَإِنَّهُ مِنْ شَجَرِ الْيَهُودِ (Kecuali (pohon) gharqad karena ia adalah pohon Yahudi).
Yakni, pohon tersebut tidak berbicara sebagaimana yang lainnya.

Imam an Nawawi berkata,"Gharqad adalah sejenis pohon berduri yang dikenal di Negeri Baitul Maqdis (Palestina). Di sanalah Dajjal dan Yahudi (akan) dibunuh (yakni oleh Nabi Isa' Alaihissallam dan kaum Muslimin).

Abu Hanifah ad Dinawari berkata,'bila 'Ausaj[17] telah menjadi besar, maka disebut Gharqad'."[18]

Ibnu al Atsir menerangkan tentang gharqad, adalah sejenis pohon 'idhah (pohon besar) dan pohon berduri. Bentuk tunggalnya "gharqadah". Dan di antaranya pula ada pemakaman penduduk Madinah yang disebut Baqi' al Gharqad[19], karena dahulu, di tempat tersebut terdapat pohon ini, yang kemudian ditebang[20]. Kemudian di tempat lainnya, Ibnu al Atsir menjelaskan tentang pohon 'idhah. Yaitu pohon ummu ghailan[21], dan setiap pohon besar yang berduri[22].

Badruddin al 'Aini berkata,"Al-Gharqad dengan difathahkan ghain-nya, disukunkan ra'-nya, difathahkan qaf-nya dan di akhirnya huruf dal adalah pohon yang berduri yang tumbuh di situ (pemakaman Baqi'), kemudian pohon tersebut sudah sirna namun namanya tetap ada untuk tempat (pemakaman) tersebut. Al-Ashma'i menyatakan bahwa pohon-pohon gharqad tersebut ditebang pada saat Utsman bin Mazh'un Radhiyallahu 'anhu dikuburkan di tempat tersebut."[23]

Sedangkan dalam al Mu'jamul Wasith diterangkan, gharqad adalah pohon yang tingginya antara satu sampai tiga meter. Tergolong spesies terung-terungan, batang dan dahannya berwarna putih, mirip pohon 'ausaj dari segi daunnya yang lunak dan dahannya yang berduri[24]. Adapun bunganya yang berleher panjang lagi berbau harum, berwarna putih kehijauan[25]. Buahnya berbentuk kerucut dapat dimakan, dikenal juga dengan nama ghardaq.[26]

Abu Zaid al Anshari mengatakan,"Pohon gharqad dapat tumbuh di segala tempat, kecuali di pasir yang panas."

Adapun disandarkannya pohon gharqad sebagai pohon Yahudi yang akan menjadi tempat persembunyian mereka, ini menunjukkan bahwa, di antara makhluk Allah, meski itu benda-benda mati tak bernyawa, ada yang tidak taat kepada perintah Allah dan melakukan hal yang tidak disukai Allah. Sebagai contoh, yaitu perbuatan sebuah batu yang membawa lari pakaian Nabi Musa Alaihissallam saat beliau mandi, sehingga Musa Alaihissallam memukulnya.[27]

Pelajaran Hadits



Kewajiban mengimani seluruh perkara ghaib yang diberitakan Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam, dan tidak sah keimanan seseorang sehingga dia mengimaninya.

Mukjizat bagi Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam, karena banyak berita ghaib yang beliau sampaikan pada masa beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam masih hidup betul-betul terjadi sesuai kenyataan. Dan yang belum terjadi, pasti akan terjadi, karena berita yang beliau sampaikan adalah haq, berasal dari wahyu Allah Subhanahu wa Ta'ala. Ini juga menunjukkan kenabian beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam adalah benar.
Mengimani tentang hari kiamat dan pasti akan datang.


Kiamat diawali dengan tanda-tanda. Kiamat tidak akan terjadi, sehingga seluruh tandanya telah muncul menurut kehendak dan hikmah Allah.

Peperangan orang-orang mukmin dengan orang-orang kafir akan tetap ada sampai menjelang datangnya kiamat.
Berita gembira tentang puncak kemenangan yang akan diraih kaum Muslimin, yaitu akan memerangi dan membunuh orang-orang Yahudi pada saat menjelang tibanya kiamat. Adapun waktunya, yaitu saat kemunculan Dajjal dan turunnya Nabi 'Isa Alaihissallam.


Hadits ini merupakan berita, bahwa pasukan Yahudi saat itu berada di bawah komando Dajjal. Dan kaum Muslimin bersama Nabi 'Isa Alaihissallam, hingga Dajjal berhasil dibunuh oleh Nabi 'Isa Alaihissallam.
Persenjataan perang saat itu adalah sebagaimana persenjataan masa lalu, seperti pedang, tombak dan semisalnya.


Mengimani bahwa Allah Maha Kuasa untuk menjadikan benda-benda mati berbicara atas kehendakNya.


Pohon gharqad adalah pohon Yahudi yang akan dijadikan tempat persembunyian mereka saat terdesak oleh kaum Muslimin.


Wallahu a'lam.
______
Footnote



[1] Taqribut Tahdzib, no. 442.



[2] Silahkan merujuk ke risalah tersebut.



[3] Al-Ishabah, 4/316-dst.



[4] Semacam anjungan, berada di serambi Masjid Nabawi. Saat itu sebagai tempat tinggal kaum fakir miskin yang tidak mempunyai rumah.



[5] Syaikh al Albani berkata dalam catatan beliau terhadap Syarhu 'Aqidatith-Thahawiyyah, halaman 59 : "Dan hadits-hadits tentang itu (munculnya Dajjal) adalah mutawatir …".



[6] Fat-hul Bari, 6/610. Beliau turun di dekat al Manarah al Baidha (Menara Putih) sebelah timur kota Damaskus. Lihat Shahih Muslim, kitab al Fitan wa Asyrathus-Sa'ah, bab Dzikru ad Dajjal wa Shifatuhu wa ma Ma'ahu, hadits no. 2937, dan yang lainnya.



[7] 'Umdatul Qari`, 14/199.



[8] Shahih Muslim, kitab al Fitan wa Asyrathus-Sa'ah, bab Dzikru ad Dajjal wa Shifatuhu wa ma Ma'ahu, hadits no. 293. Diriwayatkan pula oleh selainnya. Bab Lud adalah nama sebuah kawasan di dekat Baitul Maqdis.



[9] Shahih Muslim, kitab al Fitan wa Asyrathus-Sa'ah, bab fi Fathi Qusthanthiniyyah wa Khuruj ad Dajjal wa Nuzul 'Isa Alaihissallam , hadits no. 2897. Lihat risalah Qishshatul-Masihid-Dajjal, halaman 133 dan 144, karya Syaikh al Albani rahimahullah.



[10] Lihat Fat-hul Bari, 6/610.



[11] Mengenai kerasnya permusuhan Yahudi terhadap umat Islam ini telah dikabarkan oleh Allah Subhanahu wa Ta'alal dalam al Qur`an surat al Maidah ayat 82. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman :
لَتَجِدَنَّ أَشَدَّ النَّاسِ عَدَاوَةً لِلَّذِينَ آمَنُوا الْيَهُودَ وَالَّذِينَ أَشْرَكُوا
Sesungguhnya kamu dapati orang-orang yang paling keras permusuhannya terhadap orang-orang yang beriman ialah orang-orang Yahudi dan orang-orang musyrik …



[12] HR Abu Dawud, kitab al Buyu', bab fin-Nahyi 'anil 'Inah, hadits no. 3462, dari 'Abdullah bin 'Umar Radhiyallahu 'anhuma. Dishahihkan oleh Syaikh al Albani dalam Shahih Sunan Abi Dawud, no. 3462.



[13] Nailul-Authar, 5/320.



[14] Haula Fiqhil- Waqi', oleh Syaikh al Albani rahimahullah



[15] Ibid.



[16] Fat-hul Bari, 6/610



[17] Sejenis pohon berduri dari spesies terung-terungan, buahnya bulat seperti batu akik. Lihat al Mu'jam al Wasith, 2/600. Demikian ini pendapat Abu Hanifah rahimahullah



[18] Syarah Shahihi Muslim, 18/36. Lihat pula Lisanul 'Arab, 3/325



[19] Lihat dalam hadits Ali bin Abi Thalib Radhiyallahu 'anhu dalam Shahih al Bukhari, kitab al Janaiz, bab Mau'izhatul Muhaddits 'indal Qabri wa Qu'udu ash-habihi, hadits no. 1362 dan Shahih Muslim, kitab al Qadr, bab Kaifiyatu Khalqil-Adamiyyi fi Bathni Ummihi …, hadits no. 2647.



[20] An Nihayah fi Gharibil-Hadits, 3/362.



[21] Disebut juga pohon Samur, salah satu jenis pohon besar yang tergolong jenis tanaman Santh. Yaitu dari spesies tanaman yang memiliki buah, berupa biji-biji yang dibungkus kulit yang panjang, tebal, berkantung-kantung dan berwarna coklat. Kira-kira bentuknya seperti buah turi, tetapi berukuran lebih pendek. Tumbuh di daerah beriklim panas, dan banyak ditemukan di Mesir. Lihat al Mu'jamul-Wasith, 2/669, 1/448, 454, 561.



[22] An Nihayah fi Gharibil-Hadits, 3/255.



[23] 'Umdatul Qari`, 8/188.



[24] Menurut sebagian ikhwah yang pernah melihatnya, dari segi bentuk daun, batang dan rantingnya, mirip pohon cemara tetapi tidak tinggi, yakni lebih pendek. Wallahu a'lam.



[25] Kira-kira bentuknya mirip bunga Turi.



[26] Al Mu'jamul-Wasith, 2/650-651



[27] Lihat kisahnya dalam Shahih al Bukhari, kitab al-Ghusl, bab Man Ightasala Wahdahu 'Uryanan fil Khulwati wa Man Tasattara, hadits no. 278 dan di dalam kitab Ahaditsul-Anbiya', bab Hadits al Khidhr ma'a Musa Alaihissallam, hadits no. 3404; Shahih Muslim, kitab al Haidh, bab Jawazul Ightisal 'Uryanan fil Khulwah, hadits no. 339, dan kitab al Fadhail, bab Min Fadha-il Musa Alaihissallam, hadits no. 339.

Sumber: almanhaj.or.id

SHARE:
Tags
Berita Terkait
Komentar
Berita Terbaru