Keberkahan Makan Sahur

Oleh Dr. Nashir bin ‘Abdirrahman bin Muhammad al-Juda’i
Rio Agusri - Rabu, 13 Maret 2024 06:17 WIB
Keberkahan Makan Sahur
Ilustrasi (foto int)

Keutamaan Sahur dan Berkahnya
Diriwayatkan dari Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam bahwasanya beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

"تَسَحَّرُوْا! فَإِنَّ فِي السَّحُوْرِ بَرَكَةٌ."

"Bersahurlah, karena pada makan Sahur itu ada keberkahan."[12]

Dan diriwayatkan dari al-'Irbadh bin Sariyah Radhiyallahu anhu[13], ia berkata: "Aku telah mendengar Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam memanggil seseorang untuk makan Sahur seraya bersabda:

"هَلُمَّ إِلَى الْغَدَاءِ الْمُبَارَكِ."

"Kemarilah untuk menyantap makanan yang diberkati."[14]

Makan Sahur memiliki keberkahan dunia dan akhirat, Imam an-Nawawi rahimahullah berkata saat menjelaskan keberkahan Sahur, "Keberkahan yang terdapat pada makan Sahur sangatlah jelas sekali, karena ia menguatkan untuk berpuasa dan membuatnya bergairah untuknya serta mendapatkan keinginan untuk menambah puasa oleh karena ringannya kesulitan padanya bagi orang yang bersahur." Dikatakan: "Sesungguhnya ia mengandung terjaga dari tidur, dzikir dan do'a pada saat itu, dimana waktu tersebut adalah waktu turunnya Malaikat, penerimaan do'a dan istighfar, dan kemungkinan ia mengambil wudhu' lalu shalat atau terus melanjutkan terjaga untuk dzikir, do'a, shalat atau mempersiapkan diri untuk shalat hingga terbit Fajar."[15]

Yang benar, bahwa keberkahan meliputi semua itu dan hal-hal lain dari manfaat-manfaat Sahur, baik duniawi maupun ukhrawi, dan bahwa makan Sahur mencakup makanan dan minuman, sedangkan kata kerjanya adalah التَّسَحُّرُ.

Dalam kitab Fat-hul Baari, Ibnu Hajjar berkata: "(Pendapat) yang terbaik adalah, bahwa keberkahan dalam makan Sahur dapat diperoleh dari banyak segi, yaitu mengikuti Sunnah dan menyalahi ahlul Kitab, taqwa kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala dengan beribadah, menambah semangat beramal dan mencegah akhlak yang buruk yang diakibatkan oleh kelaparan, menjadi sebab bersedekah kepada siapa yang meminta saat itu atau berkumpul bersama dengannya untuk makan, membuatnya berdzikir, berdo'a pada waktu-waktu dikabulkannya do'a, memperbaiki niat puasa bagi mereka yang melalaikannya sebelum tidur, Ibnu Daqiqil 'Ied[16] berkata, 'Keberkahan ini dapat juga berlaku terhadap hal-hal ukhrawi karena dengan menegakkan Sunnah, maka akan diganjar dan bertambahnya Sunnah (yang dilakukan), begitu pula bisa saja berlaku terhadap hal-hal duniawi, seperti kekuatan tubuh untuk berpuasa dan juga memudahkan dirinya tanpa ada bahaya bagi orang yang melaku-kan puasa.'"[17]

Di antara keutamaan-keutamaan yang ditambah bagi makan Sahur adalah Allah Subhanahu wa Ta'ala dan Malaikat-Nya akan bershalawat bagi orang-orang yang makan Sahur, tidak dipungkiri bahwa itu adalah keutamaan yang besar.

Abu Said al-Khudri Radhiyallahu anhu telah meriwayatkan dari Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam bahwasanya beliau bersabda:

"السَّحُوْرُ أَكْلُهُ بَرَكَةٌ، فَلاَ تَدْعُوْهُ وَلَوْ أَنْ يُجْرَعَ أَحَدُكُمْ جُرْعَةً مِنْ مَاءٍ، فَإِنَّ اللهَ وَمَلاَئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى الْمُتَسَحَّرِيْنَ."

"Makan Sahur adalah keberkahan, maka janganlah kalian meninggalkannya, walaupun hanya berupa seteguk air, karena Allah Subhanahu wa Ta'ala dan Malaikat-Nya bershalawat bagi orang-orang yang bersahur."[18]

Maka seyogyanyalah bagi seorang Muslim mengikuti Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam dalam perbuatannya pada masalah ini, hingga memperoleh keberkahannya dan keutamaan-keutamaannya serta manfaat dunia dan akhirat.


fotenote
[1] Ash-Shihah (II/679) oleh al-Jauhari, al-Qamuus al-Muhiith (II/528) disusun oleh az-Zawi
[2] An-Nihaayah (II/347) oleh Ibnul Atsir
[3] Ibid, II/347.
[4] Lisaanul 'Arab (IV/350), dengan sedikit perubahan
[5] Yaitu gelapnya malam dan terangnya siang, seperti yang dijelaskan oleh Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam dalam hadits 'Adiy bin Hatim Radhiyallahu anhu, lihat Shahih al-Bukhari (II/231) Kitaabush Shaum bab Qaulullaahu Ta'aalaa: وَكُلُوْا وَاشْرَبُوْا….
[6] Shahih al-Bukhari (II/771) Kitaabush Shaum bab Qadru Kam bainas Suhuur wa Shallatul Fajr dan Shahih Muslim (II/771).
[7] Syarhus Sunnah (VI/253) oleh al-Baghawi.
[8] Diriwayatkan oleh al-Bukhari dalam Shahihnya (II/232) Kitaabush Shaum bab Barakatus Suhuur min Ghairi Iijaab liannan Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam wa Ash-haabuhu Waashalu wa lam Yudzkaris Suhuur juga Muslim dalam Shahihnya (II/770) Kitaabush Shiyaam bab Fadhlus Suhuur, dari Anas bin Malik Radhiyallahu anhu dan dalam Shahih Ibni Khuzaimah (III/213).
[9] Diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Shahihnya (II/771) kitab ash-Shiyaam bab Fadhlus Suhuur dari 'Amr bin 'Ash Radhiyallahu anhu.
[10] Syarhun Nawawi li Shahiihi Muslim (VII/207).
[11] Lihat Fat-hul Baari (IV/140) oleh Ibnu Hajjar
[12] Telah diriwayatkan dalam ash-Shahihain
[13] Beliau adalah al-'Irbadh bin Sariyah as-Sulami atau Najih, beliau termasuk dari ahli fiqh dan tinggal di Himsh -wilayah Syam-, wafat pada tahun 75 H, lihat Asaadul Ghaabah (III/518), al-Ishaabah (II/266) dan Tahdziibut Tahdziib (VII/174).
[14] Diriwayatkan oleh Abu Dawud dalam Sunannya (II/758) Kitaabush Shiyaam bab Man Sammas Sahuural Ghadaa' dan an-Nasa-i (IV/126) Kitaabush Shiyaam bab ad-Da'wah ilas Sahuur, Imam Ahmad dalam Musnadnya (IV/126), Ibnu Khuzaimah dalam Shahihnya (III/214) Kitaabush Shiyaam bab Dziktud Dallilin Naas Sahuur Qad Yaqa'a 'alaihi Ismul Ghadaa', Ibnu Hibban dalam Shahihnya (V/194) disusun oleh al-Farisi, al-Albani berkata dalam Misykatul Mashabiih (I/622), "Sanadnya hasan."
[15] Syarhun Nawawi li Shahiihi Muslim (VII/206), dengan perubahan.
[16] Beliau Muhammad bin 'Ali bin Wahb al-Qusyairi al-Manfaluthi Taqiyuddin Abul Fath, imam, faqih, mujtahid, hafizh, muhaddits, menulis banyak karangan, dikenal dengan nama Ibnu Daqiq al-'Ied, beliau seorang yang cerdas di zamannya, sangat luas ilmunya, tenang, berwibawa, seorang hafizh yang kuat, menjadi hakim di Mesir. Di antara karyanya: Syarhul 'Umdah, al-Imaam fil Ahkaam, al-Iqtiraah fii 'Uluumil Hadiits, wafat pada tahun 702 H. Lihat Tadzkiiratul Huffaazh (IV/1481), Thabaqatul Huffazh (hal. 516), Syadzaa-ratudz Dzahab (VI/5) dan al-A'laam (VI/283).
[17] Fat-hul Baari (IV/140). Lihat Ihkaamul Ahkaam Syarhu 'Umdatul Ahkaam (II/18) oleh Ibnu Daqiqil 'Ied
[18] Diriwayatkan oleh Imam Ahmad dalam Musnadnya (III/12-44), al-Mundziri berkata dalam at-Targhiib wat-Tarhiib (II/139): "Diriwayatkan oleh Ahmad dengan sanad yang kuat." Al-Haitsami berkata dalam Majmaa'-uz Zawaa-id (III/150): "Diriwayatkan oleh Ahmad dan di dalamnya ada perawi yang bernama Rafa'ah, aku tidak tahu ada yang menguatkannya. Dia dan tidak pula ada yang melemahkannya, sedangkan para perawi yang lain adalah shahih." Diriwayatkan juga oleh Ibnu Hibban dalam Shahihnya, al-Ihsaan bi Tartiibi Shahih Ibni Hibban (V/194). Lafazh terakhir dari hadits, إِنَّ اللهَ وَمَلاَئِكَتِهِ adalah dari 'Abdullah bin 'Umar Radhiyallahu anhuma.



Sumber: almanhaj.or.id



SHARE:
Tags
Berita Terkait
Polsek Benai Bersama Bhayangkari Ranting Tebar Kebaikan untuk Sesama di Jum’at Berkah

Polsek Benai Bersama Bhayangkari Ranting Tebar Kebaikan untuk Sesama di Jum’at Berkah

Menteri Ekraf Tinjau SPPG di Pidie, Program MBG Harus Sukses

Menteri Ekraf Tinjau SPPG di Pidie, Program MBG Harus Sukses

Muslem S.Pd: MBG Untuk Siswa SMA Negeri 1 Sakti Tidak Basi dan Aman Dikonsumsi

Muslem S.Pd: MBG Untuk Siswa SMA Negeri 1 Sakti Tidak Basi dan Aman Dikonsumsi

Pj Penghulu Salak Saipul Bahari Tahan Tunjangan Mantan Pj Lama

Pj Penghulu Salak Saipul Bahari Tahan Tunjangan Mantan Pj Lama

Buka Bersama, Bupati Pidie Santuni Anak Yatim

Buka Bersama, Bupati Pidie Santuni Anak Yatim

Anjuran Untuk Bersahur dan Keutamaanya

Anjuran Untuk Bersahur dan Keutamaanya

Komentar
Berita Terbaru