Meninggalkan Maksiat Karena Allah

Oleh : Dr. Muhammad bin Ibrahim al-Hamd, Penerjemah Muhammad Iqbal A. Gazali
Rio Agusri - Sabtu, 02 Maret 2024 17:00 WIB
Meninggalkan Maksiat Karena Allah
Ilustrasi (foto int)

Barangsiapa yang meninggalkan riba dan usaha yang buruk niscaya Allah Subhanahu wa Ta'ala memberikan berkah dalam rizqinya dan membuka baginya pintu-pintu kebaikan dan keberkahan.

Barangsiapa yang meninggalkan pandangan yang haram niscaya Allah Subhanahu wa Ta'ala menggantikannya dengan firasat yang benar, cahaya dan kejelasan, serta kenikmatan yang didapatkannya di hatinya.

Barangsiapa yang meninggalkan sikap pelit, mengutamakan sikap pemurah niscaya manusia menyukainya, dekat dari Allah Subhanahu wa Ta'ala dan dari surga, selamat dari duka cita, sakit hati, dan dada sempit, menaikan tangga kesempurnaan dan tingkatan keutamaan

وَمَن يُوقَ شُحَّ نَفْسِهِ فَأُوْلَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ


"Dan barangsiapa yang dipelihara kebakhilan dirinya maka merekalah orang-orang yang beruntung."


Barangsiapa yang meninggalkan sikap sombong dan selalu berakhlak tawadhu' (rendah hati) niscaya sempurna kepemimpinannya, tinggi kedudukannya, dan keutamaannya mencapai puncak. Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda dalam riwayat Muslim:


وَمَنْ تَوَاضَعَ ِللهِ رَفَعَهُ


"Barangsiapa yang rendah hati karena Allah Subhanahu wa Ta'ala niscaya Dia meninggikannya."


Barangsiapa yang meninggalkan tidur dan selalu mendirikan shalat karena Allah Subhanahu wa Ta'ala niscaya Dia memberikannya kesenangan, rajin dan rasa akrab dalam ibadah.

Barangsiapa yang meninggalkan rokok, segala yang memabokan dan menghilangkan akal niscaya Allah Subhanahu wa Ta'ala menolongnya, memberikan kelembutan dari sisi -Nya, kesehatan dan kebahagiaan hakiki, bukan kebahagiaan semu yang berlalu.

Barangsiapa yang meninggalkan membalas dendam, padahal dia mampu melakukannya, niscaya Allah Subhanahu wa Ta'ala memberikan rasa lapang dalam dadanya, senang di hati. Maka di dalam pemberian maaf terdapat rasa tenang, manis, kemuliaan jiwa dan ketinggiannya yang tidak ada bandingnya. Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

وَمَا زَادَ اللهُ عَبْدًاً بِعَفْوٍ إِلاَّ عِزًّاً


"Dan Allah Subhanahu wa Ta'ala tidak menambah kepada hamba dengan sikap maaf kecuali kemuliaan."


Barangsiapa yang meninggalkan teman yang jahat yang merupakan puncak kesenangannya niscaya Allah Subhanahu wa Ta'ala menggantikannya teman-teman yang baik yang dia mendapatkan kesenangan dan faedah di sisi mereka, serta memperoleh kebaikan dunia dan akhirat dari persahabatan dan pergaulan dengan mereka.

Barangsiapa yang meninggalkan banyak makan niscaya ia selamat dari kegemukan dan segala penyakit, karena barangsiapa yang banyak makan niscaya ia banyak minum, lalu banyak tidur, selanjutnya ia banyak rugi.

Barangsiapa yang tidak menunda-nunda dalam membayar hutang niscaya Allah Subhanahu wa Ta'ala menolongnya dan membayarkan untuknya, bahkan Allah Subhanahu wa Ta'ala pasti menolongnya.

Barangsiapa yang meninggalkan marah niscaya ia menjaga kemuliaan dan kewibawaan dirinya, terhindar dari kehinaan meminta maaf dan konsekwensi penyesalan, serta termasuk dalam golongan orang-orang yang bertaqwa (الكاظمين الغيظ) "orang-orang yang menahan amarah". Seorang laki-laki datang kepada Nabi seraya berkata: Ya Rasulullah, berilah wasiat kepadaku. Beliau bersabda: 'Janganlah engkau marah." HR. al-Bukhari. Al-Mawardi rahimahullah berkata: Maka sudah sepantasnya bagi orang yang memiliki akal lurus dan pertimbangan yang kuat agar menghadapi kekuatan marah dengan sikap hilmnya (santunnya) maka ia bisa menahannya, dan mengimbangi dorongan kejahatannya dengan pertimbangannya maka ia bisa menahannya, agar dia mendapatkan kebaikan yang terbesar dan beruntung dengan kesudahan yang terpuji.

Dan dari Abu Ablah, ia berkata, 'Pada suatu hari, Umar bin Abdul Aziz sangat marah kepada seorang laki-laki, lalu dia menyuruh untuk dibawa ke hadapannya, lalu laki-laki itu dibawa kehadapannya dan diikat dengan tali dan dibawakan cambuk. Lalu Umar bin Abdul Aziz rahimahullah berkata: Lepaskanlah dia. Sesungguhnya jika bukan karena aku sangat marah niscaya aku menghukum engkau.' Kemudian ia membaca: (الكاظمين الغيظ) "orang-orang yang menahan amarah"


Barangsiapa menghindarkan diri dari terjerumus dalam kehormatan manusia dan mengungkapkan aib mereka niscaya ia digantikan dengan keselamatan dari keburukan mereka dan diberikan rizqi melihat pada dirinya. Ahnaf bin Qais Radhiyallahu anhu berkata: "Barangsiapa yang bersegera kepada manusia yang tidak mereka sukai, niscaya mereka berkata padanya sesuatu yang tidak mereka ketahui.' Dan seorang wanita badawi berpesan kepada anaknya: 'Jauhilah mengurusi kekurangan orang lain maka (jika engkau melakukan hal itu, niscaya) engkau akan menjadi sasaran, dan sudah pasti sasaran tidak bisa bertahan karena banyaknya anak panah. Dan sedikit sekali anak panah memalingkan sasaran sampai ia menjadi lemah karena saking kuatnya. Imam asy-Syafii rahimahullah berkata:

المرء إن كان مؤمناً ورعاً *** أشغله عن عيوب الورى ورعه


كما السقيم العليل أشغله *** عن وجع الناس كلهم وجعه


Seseorang, jika ia beriman serta bersikap wara', Niscaya sifat wara'nya menghalanginya dari (memperhatikan) keaiban manusia (orang lain)


Sebagaimana orang sakit saat menderita, rasa sakitnya membuat dia tidak sempat memikirkan penyakit semua manusia.


Barangsiapa yang meninggalkan pertengkaran dengan orang-orang bodoh dan berpaling dari orang-orang jahil niscaya ia menjaga kehormatannya, melapangkan dirinya dan selamat dari mendengarkan yang menyakitinya.

خُذِ الْعَفْوَ وَأْمُرْ بِالْعُرْفِ وَأَعْرِضْ عَنِ الْجَاهِلِينَ


Jadilah engkau pema'af dan suruhlah orang mengerjakan yang ma'ruf, serta berpalinglah dari pada orang-orang yang bodoh. [al-A'raaf/7:199]


Barangsiapa yang meninggalkan sifat dengki pastilah ia selamat dari bahayanya yang beraneka ragam. Sifat hasad adalah penyakit berbahaya, racun yang membunuh, lorong yang rusak, dan perilaku yang tercela. Dan di antara tercelanya sifat hasad bahwa ia mengarah kepada orang terdekat dari karib kerabat, kenalan terdekat dan saudara-saudara. Sebagian orang yang bijak berkata: Aku tidak pernah melihat orang zalim yang lebih menyerupai dengan yang dizalim selain orang yang pendengki, jiwa yang sengsara, selalu berduka cita dan hati yang bingung.

Barangsiapa yang selamat dari sifat buruk sangka (su`uzh zhann) niscaya ia selamat dari kekacaun jiwa dan fikiran yang terganggu. Maka buruk sangka merusak rasa cinta dan menarik sakit hati dan kekacuan jiwa. Karena inilah Allah Subhanahu wa Ta'ala memeperingatkan darinya:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اجْتَنِبُوا كَثِيراً مِّنَ الظَّنِّ إِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ إِثم


Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu adalah dosa. [al-Hujurat/49:12]


Dan Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:


إياكم والظن فإن الظن أكذب الحديث


"Jauhilah prasangka, maka sesungguhnya prasangka itu adalah pembicaraan paling dusta." HR. al-Bukhari dan Muslim.


Barangsiapa yang menjauhi sifat malas dan maju di atas kesungguhan dan bekerja keras niscaya tinggilah semangatnya dan diberikan berkah pada waktunya, lalu ia mendapatkan kebaikan yang banyak di waktu yang sedikit.

Baca Juga Mengobati Amarah

Dan barangsiapa yang meninggalkan kenikmatan niscaya ia mendapatkan cita-cita dan barangsiapa yang tenggelam dalam kenikmatan niscaya ia menggigit tangan (menyesal).


Barangsiapa yang meninggalkan mencari ketenaran dan suka terkenal niscaya Allah Subhanahu wa Ta'ala mengangkat sebutannya (namanya), menyebarkan keutamaannya dan datanglah ketenarannya yang menyeret ujung kainnya (tanpa dikehendakinya).

Barangsiapa yang meninggalkan sikap durhaka, maka ia menjadi berbakti kepada kedua orangnya, niscaya Allah Subhanahu wa Ta'ala ridha kepadanya, memberikan karunia anak-anak yang berbakti dan memasukkannya ke dalam surga di akhirat.

SHARE:
Tags
Berita Terkait
Komentar
Berita Terbaru