Tembok Ya'juj dan Ma'juj

Rio Agusri - Jumat, 23 Februari 2024 05:00 WIB
Tembok Ya'juj dan Ma'juj
Ilustrasi (foto int)

Demikian pula, tidak penting bagi kami menentukan tempat dinding penghalang tersebut dalam pembahasan ini. Bahkan kita harus berhenti sesuai dengan yang Allah kabarkan kepada kita semua. Demikian pula yang diterang-kan dalam berbagai hadits shahih, yaitu bahwa dinding Ya'-juj dan Ma'-juj itu masih ada hingga datang waktu yang telah ditentukan untuk dirobohkan, kemudian disusul dengan keluarnya Ya'-juj dan Ma'-juj, hal itu terjadi ketika Kiamat telah dekat, sebagaimana yang dikabarkan oleh Allah Ta'ala:

قَالَ هٰذَا رَحْمَةٌ مِّنْ رَّبِّيْۚ فَاِذَا جَاۤءَ وَعْدُ رَبِّيْ جَعَلَهٗ دَكَّاۤءَۚ وَكَانَ وَعْدُ رَبِّيْ حَقًّا ۗ ٩٨ وَتَرَكْنَا بَعْضَهُمْ يَوْمَىِٕذٍ يَّمُوْجُ فِيْ بَعْضٍ وَّنُفِخَ فِى الصُّوْرِ فَجَمَعْنٰهُمْ جَمْعًا

"Dzul Qarnain berkata, '(Dinding) ini adalah rahmat dari Rabb-ku, maka apabila janji Rabb-ku sudah datang. Dia akan menjadikannya hancur luluh; dan janji Rabb-ku itu adalah benar.' Kami biarkan mereka (Ya'-juj dan Ma'-juj) di hari itu berbaur antara satu dengan yang lain, kemudian ditiup lagi sangkakala, lalu Kami kumpulkan mereka itu semuanya." (Al-Kahfi/18: 98-99)

Dalil yang menunjukkan bahwa dinding penghalang tersebut belum dihancurkan adalah hadits yang diriwayatkan dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu, dari Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam tentang dinding penghalang itu, beliau bersabda:

يَحْفُرُونَهُ كُلَّ يَوْمٍ حَتَّى إِذَا كَادُوا يَخْرِقُونَهُ قَالَ الَّذِي عَلَيْهِمْ: ارْجِعُوافَسَتَخْرِقُونَهُ غَداً. قَالَ: فَيُعِيدُهُ اللهُ كَأَمْثَلِ مَا كَانَ حَتَّى إِذَا بَلَغَ مُدَّتَهُمْ وَأَرَادَ اللهُ أَنْ يَبْعَثَهُمْ عَلَى النَّاسِ قَالَ الَّذِي عَلَيْهِمْ: ارْجِعُوا فَسَتَخْرِقُونَهُ غَداً إِنْ شَاءَ الله، وَاسْتَثْنَى. قَالَ: فَيَرْجِعُونَ هُوَ كَهَيْئَتِهِ حِينَ تَرَكُوهُ، فَيَخْرِقُونَهُ وَيَخْرُجُونَ عَلَى النَّاسِ فَيَسْتَقُونَ الْمِيَاهَ، وَيَفِرُّ النَّاسُ مِنْهُمْ.

"Mereka melubangi setiap hari, hingga ketika mereka hampir saja melubanginya, maka pemimpin di antara mereka berkata, 'Kembalilah, esok hari kalian akan melubanginya.'" Rasul bersabda, "Lalu Allah mengembalikannya tokoh seperti semula, sehingga ketika mereka telah mencapai waktunya, dan Allah berkehendak untuk mengutus mereka kepada manusia, maka orang yang memimpin mereka berkata, 'Kembalilah, esok hari insya Allah (dengan izin Allah) kalian akan melubanginya.' Dia mengucapkan istisna (insya Allah)." Nabi bersabda, "Lalu mereka kembali sementara penutup tersebut tetap dalam keadaan ketika mereka tinggalkan, akhirnya mereka dapat melubanginya dan keluar ke tengah-tengah manusia, kemudian mereka meminum air dan manusia lari dari mereka."[8]

Adapun hadits yang terdapat dalam ash-Shahiihain -seperti yang telah dijelaskan- bahwa dinding penghalang itu telah terbuka sedikit, maka Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam merasa kaget karenanya.

Al-Ustadz Sayyid Quthub rahimahullah melihat dari sisi tarjiih bukan dari sisi yang yakin bahwa janji Allah untuk membuka penutup itu telah terjadi, dan Ya'-juj dan Ma'-juj telah keluar, mereka adalah bangsa Tatar yang muncul pada abad ke-7 Hijriyyah. Mereka telah menghancurkan kerajaan-kerajaan Islam dan hidup di muka bumi untuk melakukan kerusakan.[9]

Al-Qurthubi rahimahullah mengomentari bangsa Tatar ini dengan ungkapannya, "Dan telah keluar sebagian dari mereka -bangsa Turk- pada zaman ini, kaum-kaum yang tidak dapat dihitung kecuali oleh Allah, dan tidak ada yang dapat mengusir mereka dari kaum muslimin kecuali Allah, sehingga mereka seperti Ya'-juj dan Ma'-juj atau sebagai pembuka bagi kedatangan mereka."[10]

Munculnya bangsa Tatar terjadi pada masa al-Qurthubi, beliau mendengar berbagai kerusakan dan pembunuhan yang mereka lakukan, lalu beliau mengira bahwa mereka adalah Ya'-juj dan Ma'-juj atau pembuka bagi keluar-nya Ya'-juj dan Ma'-juj.

Akan tetapi yang termasuk ke dalam tanda-tanda besar Kiamat -yaitu keluarnya Ya'-juj dan Ma'-juj di akhir zaman- belum terjadi sampai sekarang, karena hadits-hadits shahih menunjukkan bahwa kemunculan mereka terjadi setelah turunnya 'Isa Alaihissalam. Beliaulah yang berdo'a kepada Allah untuk kehancuran mereka, sehingga Allah menghancurkan mereka, kemudian melemparkan mereka ke lautan, serta mengamankan negeri-negeri juga hamba-hamba-Nya dari kejahatan mereka.

Footnote
[1] Lihat Tafsiir Ibni Katsir (V/191).
[2] Beliau adalah seorang khalifah zaman 'Abbasiyyah, namanya Harun bin Muhammad al-Mu'tashim bin Harun ar-Rasyid, dibai'at menjadi khalifah pada umur 26 tahun, dan wafat pada tahun 232 H di jalan Makkah ketika berusia 36 tahun.
Lihat al-Bidaayah wan Nihaayah (X/308).
[3] Tafsiir Ibni Katsir (V/193).
[4] Lihat Tafsiir Ibni Katsir (V/191-192).
[5] HR. Al-Bukhari secara mu'allaq di dalam Shahiihnya, pada bab Qishshatu Ya'-juj wa Ma'-juj (VI/381, al-Fat-h).
[6] (Tirmidz) Yaqut berkata, "Sebuah kota yang terkenal dan merupakan salah satu kota besar, terletak di sisi sungai Jaihun dari sebelah timur, dikelilingi oleh pagar dan pasar-pasarnya yang ramai dengan perdagangan, dialah kota dinisbatkan kepadanya al-Imam Abu 'Isa at-Tirmidzi penulis kitab al-Jaami'ush Shahiih dan al-'Ilal. Mu'jamul Buldaan (II/26-27).
[7] Tafsiir azh-Zhilal (IV/2293), dan lihat Asyraathus Saa'ah wa Asraaruha (hal. 75), karya Muhammad Salamah Jabr, cet. Syarikat asy-Syia', Kuwait, cet. I, th. 1401 H.
[8] HR. At-Tirmidzi, Ibnu Majah, dan al-Hakim, telah diungkapkan takhrijnya sebelum ini, hadits ini shahih. Lihat hal. 158.
[9] Lihat Fii Zhilaaliil Qur-aan (IV/2293-2294).
[10] Tafsiir al-Qurthubi (XI/58).



Sumber: almanhaj.or.id

SHARE:
Tags
Berita Terkait
Komentar
Berita Terbaru