Dr. Iswadi, M.Pd: Pendidikan Harus Melahirkan Insan Cerdas Intelektual, Emosional dan Sosial
Hasballah - Minggu, 22 Februari 2026 22:58 WIB
Jakarta- Dr. Iswadi adalah sosok yang memaknai ilmu bukan sekadar kumpulan teori, melainkan cahaya yang menuntun perjalanan hidup. Sejak muda, ia telah menaruh minat besar pada dunia pengetahuan. Baginya, belajar bukan kewajiban yang dibebankan oleh sistem, tetapi kebutuhan batin yang tumbuh dari rasa ingin tahu yang mendalam. Rasa haus akan ilmu itulah yang membentuk karakter dan arah perjuangannya hingga hari ini.
Perjalanan akademik Dr. Iswadi tidak dibangun dalam semalam. Ia menapaki setiap tahap pendidikan dengan ketekunan dan kesadaran bahwa ilmu adalah investasi jangka panjang bagi peradaban. Di tengah berbagai keterbatasan dan tantangan, ia tetap teguh meyakini bahwa pendidikan adalah jalan paling bermartabat untuk mengubah nasib, baik secara personal maupun kolektif. Setiap proses belajar yang ia lalui memperkaya perspektifnya tentang makna pendidikan yang sesungguhnya.
Bagi Dr. Iswadi, pendidikan tidak boleh kehilangan sisi kemanusiaannya. Ia menolak pendekatan yang menjadikan peserta didik sekadar objek kurikulum. Dalam pandangannya, setiap individu adalah subjek yang memiliki potensi unik, latar belakang berbeda, dan cara belajar yang beragam. Pendidikan yang humanis berarti menghargai keberagaman itu, memberi ruang dialog, serta membangun relasi yang setara antara pendidik dan peserta didik.
Di ruang kelas, Dr. Iswadi dikenal sebagai figur yang mengedepankan diskusi dan refleksi. Ia mendorong mahasiswanya untuk berani bertanya, mengemukakan pendapat, bahkan mengkritisi gagasan yang ada. Ia percaya bahwa daya kritis adalah fondasi penting dalam membangun masyarakat yang dewasa dan demokratis. Pendidikan, menurutnya, harus melahirkan insan yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga matang secara emosional dan sosial.
Konsep pendidikan yang membebaskan menjadi inti dari pemikiran dan gerak langkahnya. Membebaskan dalam arti membangun kesadaran, bukan sekadar memberikan informasi. Ia kerap menegaskan bahwa pengetahuan tanpa kesadaran kritis hanya akan melahirkan kepatuhan tanpa pemahaman. Oleh karena itu, ia berupaya menghadirkan pembelajaran yang kontekstual, yang mengaitkan teori dengan realitas kehidupan sehari-hari.
Dalam berbagai kesempatan, Dr. Iswadi juga menyoroti pentingnya literasi sebagai pintu pembebasan. Literasi tidak hanya dimaknai sebagai kemampuan membaca dan menulis, tetapi sebagai kecakapan memahami, menganalisis, dan menafsirkan informasi secara bijaksana. Di tengah arus digital yang begitu deras, kemampuan ini menjadi sangat krusial. Tanpa literasi yang kuat, generasi muda mudah terseret opini dan kehilangan kemampuan berpikir mandiri.
Komitmennya terhadap pendidikan humanis tidak berhenti pada tataran wacana. Dr. Iswadi aktif terlibat dalam berbagai kegiatan sosial, pelatihan, dan forum diskusi yang bertujuan memperluas akses pengetahuan. Ia meyakini bahwa ilmu harus hadir di tengah masyarakat, bukan hanya tersimpan di ruang-ruang akademik. Pendidikan yang membebaskan adalah pendidikan yang menjangkau mereka yang terpinggirkan dan memberi kesempatan bagi semua untuk berkembang.
Sebagai seorang pemikir dan praktisi pendidikan, Dr. Iswadi juga menyadari bahwa perubahan membutuhkan kolaborasi. Ia mendorong para pendidik untuk terus belajar, berinovasi, dan saling berbagi praktik baik. Menurutnya, dunia pendidikan tidak boleh statis. Ia harus responsif terhadap perkembangan zaman, tanpa kehilangan nilai-nilai moral dan etika yang menjadi fondasinya. Modernitas dan kemanusiaan, dalam pandangannya, bukanlah dua hal yang saling bertentangan, melainkan dapat berjalan seiring.
Sikap rendah hati menjadi ciri khas Dr. Iswadi dalam setiap interaksi. Ia tidak menempatkan diri sebagai sosok yang paling tahu, tetapi sebagai pembelajar sepanjang hayat. Prinsip inilah yang membuatnya dekat dengan mahasiswa dan kolega. Ia mendengarkan sebelum berbicara, memahami sebelum menilai. Dalam pendekatan yang demikian, tercermin keyakinannya bahwa pendidikan sejati tumbuh dari relasi yang saling menghargai.
Lebih dari sekadar profesi, pendidikan bagi Dr. Iswadi adalah panggilan jiwa. Ia melihatnya sebagai sarana membangun peradaban yang lebih adil dan beradab. Misinya adalah menghadirkan sistem pembelajaran yang tidak menakutkan, tidak menekan, dan tidak mematikan kreativitas. Ia ingin pendidikan menjadi ruang aman bagi tumbuhnya gagasan, tempat di mana setiap orang merasa dihargai dan diberdayakan.
Perjalanan Dr. Iswadi sebagai pencari ilmu dengan misi pendidikan yang humanis dan membebaskan adalah refleksi dari komitmen yang konsisten. Ia membuktikan bahwa perubahan tidak selalu datang dari gebrakan besar, tetapi dari kesetiaan pada nilai-nilai kemanusiaan dalam setiap langkah kecil. Melalui dedikasinya, ia terus menyalakan semangat belajar dan mengingatkan bahwa esensi pendidikan adalah memanusiakan manusia.
Dengan semangat itu, Dr. Iswadi melangkah ke depan, membawa keyakinan bahwa pendidikan yang humanis dan membebaskan bukan sekadar cita-cita, melainkan keniscayaan yang harus diperjuangkan bersama. (*)
SHARE:
Tags
Berita Terkait
Dr. Iswadi Dorong Ambang Batas Parlemen 10% di Pemilu 2029: Menuju Sistem Politik yang Lebih Sederhana dan Stabil
Dr. Iswadi Soroti Perpres Sekolah Unggul Garuda: Momentum Strategis Mencetak Generasi Emas Indonesia
Sosok Dr.Iswadi Sang Intelektual, Searah Visi Dengan Presiden Prabowo Subianto
Dr. Iswadi Harap Presiden Undang Siswi Peraih Medali Wold Youth STEM ke Istana
Dr. Iswadi Hadirkan Buku Pendidikan Kewarganegaraan yang Inspiratif dan Visioner
Perjalanan Karir Dr.Iswadi, M.Pd, Pengusul Hak Imunitas dan Kenaikan Gaji Guru Ditetapkan Keppres
Komentar