Amalan Sunah yang Lebih Baik Dari Dunia dan Seisinya

Oleh Ustadz Kholid Syamhudi Lc
Rio Agusri - Senin, 23 September 2024 04:58 WIB
Amalan Sunah yang Lebih Baik Dari Dunia dan Seisinya
Ilustrasi (Foto int)

Dalam hadits ini dapat diketahui bahwa beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam tidak berbaring apabila 'Aisyah telah bangun, sehingga hadits ini bisa merubah makna perintah yang terdapat dalam hadits Abu Hurairah Radhiyallahu anhu, dari bermakna wajib berubah menjadi sunnah. Demikian juga, hadits 'Aisyah ini menunjukkan bahwa beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam terkadang tidak berbaring setelah melakukan Rawâtib Subuh. Seandainya wajib, tentu beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam tidak akan meninggalkannya.

b. Berbaring itu wajib dan harus dilakukan, bahkan beranggapan berbaring itu sebagai syarat sah shalat Subuh.
Inilah pendapat Abu Muhammad bin Hazm. Beliau berdalil dengan hadits Abu Hurairah Radhiyallahu anhu diatas yang berisi perintah dan sifat perintah menunjukkan makna wajib.

Syaikhul-Islam Ibnu Taimiyyah mengomentari pendapat Ibnu Hazm ini. Syaikhul-Islam berkata : "Ini merupakan pendapat beliau seorang diri yang menyelisihi umat".[20]

c. Makruh dan bid'ah.
Ini pendapat Ibnu Mas'ud, Ibnu 'Umar sebagaimana terdapat dalam satu riwayat, dan al-Aswad bin Yazîd, serta Ibrahim am-Nakhâ-i. Mereka berdalil, bahwa berbaring itu tidak pernah dilakukan Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam di masjid. Seandainya pernah dilakukan, tentu akan dinukil secara mutawâtir.

d. Menyelisihi yang lebih utama.
Demikian yang riwayat yang datang dari al-Hasan al-Bashri.

e. Berbaring ini disunnahkan bagi yang telah melakukan shalat malam pada hari itu, agar ia dapat beristirahat, dan tidak disyari'atkan pada selainnya.

Demikian yang dirajihkan Ibnul-'Arabi dan Syaikhul-Islam Ibnu Taimiyyah, juha Syaikh Muhammad bin Shâlih al-'Utsaimîn.

Syaikh al-'Utsaimin berkata,"Pendapat yang râjih dalam masalah ini, ialah yang dirâjihkan Syaikhul-Islam Ibnu Taimiyyah. Yaitu yang dirinci, sehingga menjadi sunnah bagi orang yang menegakkan malamnya, karena ia membutuhkan istirahat. Namun, bila termasuk orang yang bila berbaring di tanah dapat tidur dan tidak bangun kecuali setelah waktu yang lama, maka ini tidak disunnahkan baginya, karena dapat menyebabkannya meninggalkan kewajiban".[21]

f. Berbaring bukanlah inti yang dimaksud. Akan tetapi, yang dimaksud ialah memisahkan antara shalat Rawâtib dengan shalat Fardhu.

Demikian yang diriwayatkan dari pendapat asy-Syâfi'i. Tetapi, pendapat ini terlalu lemah, sebab pemisahan waktu dapat dilakukan dengan selain berbaring.

Menurut penulis, dari keenam pendapat di atas, yang rajih ialah yang dirajihkan oleh Imam an-Nawawi, sebagaimana beliau rahimahullah telah berkata: "Yang terpilih adalah berbaring dengan dasar zhahir hadits Abu Hurairah".[22]

Demikian juga keumuman hadits ini mencakup umat Islam, apalagi didukung dengan keabsahan hadits Abu Hurairah sebagaimana dinilai shahih oleh Imam asy-Syaukani, dan juga Syaikh al-Albâni.


Jika Seseorang Tidak Sempat Shalat Rawatib Subuh Pada Waktunya

Jika keadaanya seperti di atas, maka disyari'atkan bagi yang tidak sempat melakukan shalat Rawâtib qabliyah Subuh, untuk melaksanakannya setelah selesai shalat fardhu Subuh, atau setelah terbit matahari.

Hal ini didasarkan kepada dalil berikut ini.
Hadits Abu Hurairah Radhiyallahu anhu yang berbunyi:

عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ رَضِي اللّه عَنْهُ : قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ :" مَنْ لَمْ يُصَلِّ رَكْعَتَي الْفَجْرِ ؛ فَلْيُصَلِّهُمَا بَعْدَ مَا تَطْلُعُ الشَّمْسُ". أخرجه الترمذي.

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu , Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,"Barang siapa yang belum shalat dua rakaat qabliyah Subuh maka hendaknya melakukannya setelah terbit matahari".[23]

Perintah dalam hadits ini dialihkan maknanya kepada makna istihbaab dengan hadits lainnya yang berbunyi:

عَنْ قَيْسِ بْنِ قَهْدٍ رَضِي اللّه عَنْهُ ؛ أَنَّهُ صَلَّى مَعَ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الصُّبْحَ ، وَلَمْ يَكُنْ رَكَعَ رَكْعَتَي الْفَجْرِ ، فَلَمَّا سَلَّمَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ؛ سَلَّمَ مَعَهُ ، ثُمَّ قَامَ فَرَكَعَ رَكْعَتَي الْفَجْرِ ، وَرَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَنْظُرُ إِلَيْهِ ، فَلَمْ يُنْكِرْ ذَلِكَ عَلَيْهِ ". أخرجه الترمذي

Dari Qais bin Qah-din Radhiyallahu anhu, sesungguhnya ia shalat Subuh bersama Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam dan belum melakukan shalat dua raka'at qabliyah Subuh. Ketika Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam telah salam maka iapun salam bersama beliau, kemudian ia bangkit dan melakukan shalat dua rakaat qabliyah Subuh. Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam melihatnya dan tidak mengingkarinya.[24]

Jelas hadits ini menunjukkan boleh mengqadha dua raka'at qabliyah Subuh setelah shalat fardhu.

Demikian beberapa hukum seputar shalat Rawâtib Subuh. Mudah-mudahan bermanfaat.

Washalallahu 'ala Nabiyina Muhammad, wa 'ala alihi wa shahbihi wa sallam.


Footnote

[1] HR an-Nasâ-i, kitab al-Mawaqif, Bab: Kaifa Yaqdhi al-Fâit minash-Shalat, no. 605. Dishahîhkan Syaikh al-Albâni dalam Shahîh Sunan an-Nasâ-i. Syaikh berkata,"Shahîh dengan hadits Abu Hurairah berikutnya, dan selainnya."
[2] Shahîh dalam kitab al-Jum'at
[3] Zâdul-Ma'ad (1/456).
[4] HR al-Bukhari dan Muslim. (Akan datang takhrijnya).
[5] Zâdul-Ma'ad (1/305).
[6] HR Muslim, kitab Shalatil Musâfirin wa Qashriha, Bab: Istihbâb Rak'atai Sunnatil-Fajr wal-Hatstsu 'alaihima wa Takhfîfuhuma 'alaihima wa Bayân mâ Yustahab 'an Yaqra`a fîhima, no. 725.
[7] HR al-Bukhari, kitab Tahajjud, Bab: Ta`âhud Rak'atai al-Fajri waman Sammâha Tathawwu'an, no. 1169: Muslim, kitab Shalat al-Musâfirin wa Qashruha, Bab: Istihbâb Rak'atai Sunnah al-Fajr wal-Hatsu 'alaihima wa Takhfîfuhuma 'alaihima wa Bayân maa Yustahab 'an Yaqra`a fî hima, no. 724.
[8] HR al-Bukhari, kitab al-Tahajjud, Bab: ar-Rak'atain Qabla Dzuhur, no. 1182.
[9] HR al-Bukhâri, kitab al-Adzân, Bab: al-Adzân ba'dal-Fajr, no. 618. Muslim, kitab Shalatil-Musâfirîn wa Qashruha, Bab: Istihbâb Rak'atai Sunnah al-Fajr wal-Hatsu 'alaihima wa Takhfîfuhuma 'alaihima wa Bayân mâ Yustahab 'an Yaqra`a fî hima, no. 723.
[10] HR al-Bukhari, kitab al-Adzan, Bab: al-Adzan ba'dal-Fajr, no 584.
[11] HR al-Bukhari, kitab at-Tahajjud, Bab: Mâ Yaqra' fî Rak'atai al-Fajr, no. 1171. Muslim, kitab Shalat al-Musâfirin wa Qashruha, Bab: Istihbâb Rak'atai Sunnah al-Fajr wal-Hatsu 'alaihima wa Takhfîfuhuma 'alaihima wa Bayân mâ Yustahab 'an Yaqra`a fî hima, no. 724. Lafadz ini milik al-Bukhari.
[12] Lihat Shahîh Fiqhus-Sunnah (1/373).
[13] HR Muslim, kitab Shalat al-Musâfirin wa Qashruha, Bab: Istihbâb Rak'atai Sunnah al-Fajr wal-Hatsu 'alaihima wa Takhfîfuhuma 'alaihima wa Bayân mâ Yustahab 'an Yaqra`a fî hima, no. 726.
[14] Ibid., no. 727.
[15] Ibid., no. 728.
[16] Lihat Ibnul-Qayyim dalam Zâdul-Ma'ad (1/306). Kemudian Ibnul-Qayyim menjelaskan hikmah yang terkandung dalam dua surat tersebut.
[17] HR at-Tirmidzi, kitab ash-Shalat, Bab: Mâ Ja`a fil-Idh-thijâ` ba'da Rak'atai al-Fajri, no. 420. Hadits ini dishahihkan Syaikh al-Albani dalam Shahîh Sunan at-Tirmidzi dan Shahîh Sunan Abu Dawud no. 1146.
[18] Pembahasan ini diambil dari beberapa marâji`, di antaranya: Syarhul-Mumti' 'ala Zâdul-Mustaqni' karya Syaikh Muhammad bin Shâlih al-'Utsaimin, Nailul-Authar Syarh Muntaqa al-Akhbâr karya asy-Syaukani, Zâdul-Ma'ad karya Ibnul-Qayyim dan Shahih Fiqhus-Sunnah karya Abu Malik.
[19] HR al-Bukhari, kitab at-Tahajjud, Bab: Man Tahadatsa ba'da ar-Rak'atain wa Lam Yadh-thaji' no. 1161.
[20] Pernyataan ini dinukil langsung oleh Ibnul-Qayyim dari beliau. Lihat Zâdul-Ma'ad (1/308).
[21] Syarhul-Mumti' (4/100).
[22] Dinukil dari Nailul-Authar (3/25).
[23] HR at-Tirmidzi, kitab ash-Shalat, Bab: Mâ Ja`a fî I'âdatihima ba'da Thulu'usy-Syamsi, no. 424, dan dishahîhkan Syaikh al-Albâni dalam Shahîh Sunan at-Tirmidzi (1/133).
[24] HR at-Tirmidzi, kitab ash-Shalat, Bab Maa Ja`a fî man Tafututhu ar-Rakâtân Qablal-Fajr Yushalihuma ba'da Shalat ash-Shubhu no. 422, dan dishahîhkan Syaikh al-Albâni dalam Shahîh Sunan at-Tirmidzi (1/133).



Sumber : almanhaj.or.id

SHARE:
Tags
Berita Terkait
Komentar
Berita Terbaru