Ganjaran Bagi Orang yang Suka Membantu
Engkau telah memberi pakaian, sungguh nampak keindahan
Kelak aku akan selalu memberimu pakaian pujian karenanya
Jika engkau memperoleh pujianku engkau lah sang penderma
Aku tidak sedang mengharap balasan dari ucapanku ini
Sungguh pujianku menggugah ingatan pada yang dipuji
Bagaikan air hujan yang mampu menumbuhkan tanaman dan gunung
Jangan engkau remehkan kebaikan sepanjang hayatmu
Karena tiap hamba akan mendapat balasan atas amalnya
Ali menyahut, "Aku punya beberapa dinar". Maka beliau meminta supaya dibawakan sebanyak seratus dinar lalu memberikan kepada orang tadi. Orang tersebut berkata sambil menghitung dengan jarinya, "Wahai Amirul mukminin, engkau memberiku pakaian dan seratus dinar? Ya, jawab Ali bin Abi Thalib.
Imam Dzahabi memberi komentar kepada Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dengan mengatakan, "Dan beliau sangatlah dicintai oleh para ulama, orang-orang sholeh, dari kalangan prajurit dan pemimpin, para pedagang dan orang-orang besar serta masyarakat umum, mereka semua mencintainya. Dikarenakan jasa beliau yang bisa mereka rasakan manfaatnya baik malam maupun siang, yaitu dengan tulisan dan ucapan beliau".[3]
Disebutkan dari salah seorang syaikh menukil dari sekertarisnya Syaikh Abdul Aziz bin Baz, bahwa Syaikh suatu ketika meninggalkan puasa sunah beberapa hari, dan beliau mengatakan, "Beliau meninggalkan puasa, dikarenakan puasa membikin beliau sedikit lemas untuk memenuhi kebutuhan orang banyak. Puasa manfaatnya hanya untuk syaikh sedangkan pekerjaan lain manfaatnya untuk orang banyak".
Diriwayatkan oleh Thabrani dalam Mu'jamul Kabir dari Abu Umamah radhiyallahu 'anhu, beliau berkata, "Bahwa Nabi Muhammad Shalallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: « صنائع المعروف تقي مصارع السوء وصَدَقَةُ السِّرِّ تُطْفِئُ غَضَبَ الرَّبِّ » [أخرجه الطبراني]
"Semua perbuatan ma'ruf akan menjaga pelakunya dari kejahatan perbuatan buruk, dan sedekah dikala tidak terlihat orang banyak akan meredakan kemurkaan Rabb". [HR ath-Thabarani 8/261 no: 8014 dan Ibnu Mundzir dalam Targhib wa Tarhib 1/679. Dinilai shahih oleh al-Albani dalam silsilah ash-Shahihah no: 1908].
Sahabat Hakim bin Hizam radhiyallahu 'anhu, mengatakan, "Tidaklah dipagi hari lalu aku tidak menjumpai dipintu rumahku seorang yang membutuhkan keperluan melainkan aku mengetahui bahwa itu adalah musibah bagiku". Lihat, para sahabat sampai menganggap bahwa adanya orang yang meminta-minta sebagai bentuk nikmat yang turun pada orang yang punya kedudukan dan harta disaat mereka sedang dirundung kesulitan.
Berkata Ibnu Abbas radhiyallu 'anhuma, "Ada tiga golongan yang aku tidak sanggup untuk membalas kebaikannya: Seseorang yang memulai salam bersamaku, dan seseorang yang mempersilahkan duduk untukku dalam sebuah majelis dan seseorang yang kakinya terkena debu karena berjalan ingin memberi salam padaku. Adapun kelompok keempat maka Allah Shubhanahu wa ta'alla yang akan mencukupkan dariku serta membalasnya". Ada yang bertanya, "Siapa dia? Beliau menjawab, "Seseorang yang ditimpa musibah lalu semalaman berfikir siapa kiranya orang yang bisa meringankan musibahnya, lantas orang tersebut melihat diriku orang yang tepat untuk bisa membantu mengatasi masalahnya sehingga orang tadi mendatangiku".
Namun, hati-hati bagi para pelaku kebaikan dengan virus yang suka menjangkitinya yaitu senang mengungkit-ungkit pemberian. Karena penyakit yang satu ini akan menghapus amal kebaikannya, membikin hati bergemuruh dan menghapus pahala. Sebagaimana yang diperingatkan oleh Allah Shubhanahu wa ta'alla dalam firman -Nya:
يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ لَا تُبۡطِلُواْ صَدَقَٰتِكُم بِٱلۡمَنِّ وَٱلۡأَذَىٰ
"Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menghilangkan (pahala) sedekahmu dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti (perasaan si penerima)". [al-Baqarah/2: 264].
Seorang penyair mengatakan:
Apakah engkau akan merusak kebajikanmu dengan mengungkit-ungkit.
Bukanlah penderma orang yang suka mengungkit-ungkit pemberian
Dijelaskan dalam sebuah hadits yang diriwayatkan dari sahabat Abu Dzar radhiyallahu 'anhu, beliau berkata: "Bahwa Nabi Muhammad Shalallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: « ثَلَاثَةٌ لَا يُكَلِّمُهُمْ اللَّهُ وَلَا يَنْظُرُ إِلَيْهِمْ وَلَا يُزَكِّيهِمْ وَلَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ. وذكر منهم: الْمَنَّانُ الَّذِى لاَ يُعْطِى شَيْئًا إِلاَّ مَنَّهُ » [أخرجه مسلم]
"Ada tiga golongan yang tidak akan diajak bicara oleh Allah kelak pada hari kiamat, tidak melihat kepada mereka serta tidak mensucikannya dan bagi mereka adalah adzab yang pedih. Beliau menyebutkan salah satu diantaranya: "al-Manan yaitu orang yang tidak memberi sesuatu melainkan mengungkit-ungkit pemberiannya". [HR Muslim no: 106].
Diantara perkara yang perlu diperhatikan disini ialah, bahwa mengajarkan ilmu syar'i merupakan bentuk pemberian manfaat terbesar pada orang lain, karena kebutuhan mereka terhadap ilmu syar'i lebih besar daripada hanya sekedar kebutuhannya terhadap makan dan minum. Disebutkan dalam hadits, bahwa Nabi Muhammad Shalallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: « إن العالم ليستغفر له من في السموات من في السماوات و من في الأرض والحيتان في جوف الماء » [أخرجه أبو داود]
"Sesungguhnya orang alim benar-benar akan dimintakan ampun oleh penduduk langit dan bumi sampai ikan dikedalaman laut". [HR Abu Dawud no: 3641. dinyatakan shahih oleh al-Albani dalam shahih sunan Abi Dawud 2/694 no: 3096].
Dalam redaksi lain diterangkan:
قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: « إن الله وملائكته وأهل السموات والأرضين, حتى النملة في حجرها وحتى الحوت ليصلون على معلم الناس الخير » [أخرجه الترمذي]
"Sesungguhnya Allah dan para malaikat serta penduduk langit dan bumi yang tujuh sampai kiranya semut didalam sarangnya serta ikan, semuanya mendo'akan kepada orang-orang yang mengajarkan kebaikan pada orang lain". [HR at-Tirmidzi no: 2685. beliau berkata hadits hasan gharib shahih].
Akhirnya kita ucapkan segala puji bagi Allah Shubhanahu wa ta'alla Rabb semesta alam. Shalawat serta salam semoga Allah Shubhanahu wa ta'alla curahkan kepada Nabi kita Muhammad Shalallahu 'alaihi wa sallam, kepada keluarga beliau serta para sahabatnya.
Footnote
[1] Syarh Shahih Muslim 4/33.
[2] al-Jawabul Kafi hal: 9.
[3] al-Jami' li Sirati Syaikhi Islam Ibni Taimiyah hal: 672.
Sumber: almanhaj.or.id
Referensi : https://almanhaj.or.id/36416-ganjaran-bagi-orang-yang-suka-membantu.html