Hukum Merutinkan Qunut di Shalat Subuh
QUNUT SHUBUH TERUS MENERUS ADALAH BID'AH!!!
Qunut Shubuh yang dilakukan oleh ummat Islam di Indonesia dan di tempat lain secara terus-menerus adalah ibadah yang tidak pernah dilakukan oleh Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam, para Shahabatnya dan tidak juga dilakukan oleh para tabi'in. Para Shahabat Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam –mudah-mudahan Allah meridhai mereka-, mereka adalah orang-orang yang selalu shalat berjama'ah bersama Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam dan mereka menceritakan apa yang mereka lihat dari tata cara shalat Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam yang lima waktu dan lainnya. Mereka jelas-jelas mengatakan bahwa qunut Shubuh terus-menerus tidak ada Sunnahnya dari Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam. Bahkan di antara mereka ada yang berkata : Qunut Shubuh adalah bid'ah, sebagaimana yang disebutkan dalam riwayat-riwayat yang akan saya paparkan di bawah ini:
Hadits Ketujuh
عَنْ أَبِيْ مَالِكٍ سَعِيْدٍ بْنِ طَارِقٍ اْلاَشْجَعِيِّ قَالَ قُلْتُ ِلأَبِيْ: يَا أَبَتِ إِنَّكَ قَدْ صَلَّيْتَ خَلْفَ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَأَبِي بَكْرٍ وَعُمَرَ وَعُثْمَانَ وَعَلِيٍّ هاَهُنَا بِالْكُوْفَةِ نَحْوًا مِنْ خَمْسِ سِنِيْنَ فَكَانُوْا يَقْنُتُوْنَ فِي الْفَجْرِ؟ فَقَالَ: أَيْ بُنَيَّ مُحْدَثٌ.رواه الترمدى رقم: (402) وأحمد (3/472، 6/394) وابن ماجه رقم: (1241) والنسائي (2/204) والطحاوي (1/146) والطياليسي رقم: (1328) والبيهقي (2/213) والسياق لابن ماجه وقال الترميذي: حديث حسن صحيح وانظر صحيح سنن النسائي رقم: (1035).
Dari Abi Malik al-Asyja'i, ia berkata kepada ayahnya: "Wahai ayahku, sesungguhnya engkau pernah shalat di belakang Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam, di belakang Abu Bakar, 'Umar, 'Utsman dan di belakang 'Ali di daerah Qufah sini kira-kira selama lima tahun, apakah qunut Shubuh terus-menerus?" Ia jawab: "Wahai anakku qunut Shubuh itu bid'ah!!
Hadits shahih riwayat at-Tirmidzi (no. 402), Ahmad (III/472, VI/394), Ibnu Majah (no. 1241), an-Nasa-i (II/204), ath-Thahawi (I/146), ath-Thayalisi (no. 1328) dan Baihaqi (II/213), dan ini adalah lafazh hadits Imam Ibnu Majah, dan Imam at-Tirmidzi berkata: "Hadits hasan shahih." Lihat pula kitab Shahih Sunan an-Nasa-i (I/233 no. 1035) dan Irwaa-ul Ghalil (II/182) keduanya karya Imam al-Albany[16]
Bid'ah yang dimaksud oleh Thariq bin Asyyam al-Asyja'i ini adalah bid'ah menurut syari'at, yaitu: Mengadakan suatu ibadah yang tidak dicontohkan oleh Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam, dengan maksud bertaqarrub kepada Allah. Dan semua bid'ah adalah sesat, sebagaimana sabda Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam:
كُلُّ بِدْعَةٍ ضَلاَلةٌ وَكُلُّ ضَلاَلَةٍ فِي النَّارِ.أخرجه النسائي (3/188189) أنظر صحيح سنن النسائي (1/346) رقم (1487) والبيهقي في الأسماء والصفات عن جابر .
"Tiap-tiap bid'ah adalah sesat dan tiap-tiap kesesatan tempatnya di Neraka."
Hadits ini telah diriwayatkan oleh Imam an-Nasa-i dalam kitab Sunannya (III/188-189) dan al-Baihaqi dalam kitab al-Asma' wash Shifat, lihat juga kitab Shahih Sunan an-Nasa-i (I/346), karya Imam al-Albany.
Hadits Kedelapan
عَنْ أَبِيْ مِجْلَزٍ قَالَ: صَلَّيْتُ مَعَ ابْنِ عُمَرَ صَلاَةَ الصُّبْحِ. فَلَمْ يَقْنُتْ، فَقُلْتُ لَهُ: لاَ أَرَاكَ تَقْنُتُ، فَقَالَ: لاَ أَحْفَظُهُ عَنْ أَحَدٍ مِنْ أَصْحَابِنَا.رواه البيهقي (2/213) بإسناد حسن.
Dari Abi Mijlaz, ia berkata: "Aku pernah shalat Shubuh bersama Ibnu 'Umar, tetapi ia tidak qunut." Lalu aku bertanya kepadanya: 'Aku tidak lihat engkau qunut Shubuh?' Ia jawab: 'Aku tidak dapati seorang Shahabat pun yang melakukan hal itu.'"
Atsar ini telah diriwayatkan oleh Imam al-Baihaqi di dalam kitab Sunanul Kubra (II/213) dengan sanad yang hasan, sebagaimana yang telah dikatakan oleh Syaikh Syuaib al-Arnauth dalam tahqiq beliau atas kitab Zaadul Ma'ad (I/272).
Ibnu 'Umar seorang Shahabat yang zuhud dan wara' yang selalu menemani Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam, beliau (Ibnu 'Umar) mengatakan: "Tidak satu Shahabat yang melakukan qunut Shubuh terus-menerus. Para Shahabat yang sudah jelas mendapat pujian dari Allah tidak melakukan qunut Shubuh,…"
Namun mengapa ummat Islam yang datang sesudah para Shahabat malah berani melakukan ibadah yang tidak dicontohkan oleh Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam?
Seorang Shahabat Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam yang bernama Thariq bin Asyyam bin Mas'ud al-Asyja'i ayahanda Abu Malik Sa'd al-Asyja'i dengan tegas dan tandas mengatakan: "Qunut Shubuh adalah bid'ah!"
PENDAPAT PARA ULAMA TENTANG QUNUT SHUBUH TERUS MENERUS
Imam Ibnul Mubarak berpendapat tidak ada qunut di shalat Shubuh.
Imam Abu Hanifah berkata: "Qunut Shubuh (terus-menerus itu) dilarang."
Lihat Subulus Salam (I/378).
Abul Hasan al-Kurajiy asy-Syafi'i (wafat th. 532 H), beliau tidak mengerjakan qunut Shubuh. Dan ketika ditanya: "Mengapa demikian?" Beliau menjawab: "Tidak ada satu pun hadits yang shah tentang masalah qunut Shubuh!!"
Lihat Silsilatul Ahaadits adh-Dha'iifah wal Maudhu'ah (II/388)
Ibnu Qayyim al-Jauziyyah berkata: "Tidak ada sama sekali petunjuk dari Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam mengerjakan qunut Shubuh terus-menerus. Jumhur ulama berkata: "Tidaklah qunut Shubuh ini dikerjakan Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam, bahkan tidak ada satupun dalil yang sah yang menerangkan bahwa Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam mengerjakan demikian."
Lihat Zaadul Ma'aad (I/271 & 283), tahqiq : Syu'aib al-Arnauth dan 'Abdul Qadir al-Arnauth
Syaikh Sayyid Sabiq berkata: "Qunut Shubuh tidak disyari'atkan kecuali bila ada nazilah (musibah) itu pun dilakukan di lima waktu shalat, dan bukan hanya di waktu shalat Shubuh. Imam Abu Hanifah, Ahmad bin Hanbal, Ibnul Mubarak, Sufyan ats-Tsauri dan Ishaq, mereka semua tidak melakukan qunut Shubuh."
Lihat Fiqhus Sunnah (I/167-168)
PENJELASAN TENTANG PENDAPAT MEREKA YANG MENYUNNAHKANNYA
Sebagian orang ada yang mengatakan: "Madzhab kami berpendapat sunnah berqunut pada shalat Shubuh, baik ada nazilah ataupun tidak ada nazilah."
Apabila kita perhatikan, maka kita dapat mengetahui bahwa yang melatarbelakangi pendapat mereka adalah 'anggapan' mereka tentang ke-shahih-an hadits tentang qunut Shubuh secara terus-menerus.
Akan tetapi setelah pemeriksaan, kita mengetahui bahwa semua hadits tersebut ternyata dha'if (lemah) semuanya.
Kemungkinan besar, mereka belum mengetahui tentang kelemahan hadits-hadits tersebut. Karena manusia tetaplah manusia, siapapun dia, dan sifat manusia itu bisa benar dan bisa juga salah. Dan Imam asy-Syafi'i sangat memahami hal ini, sehingga beliau berkata:
إِذَا وَجَدْتُمْ فِيْ كِتَابِيْ هَذَا خِلاَفَ سُنَّةِ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَدَعُوْا مَا قُلْتُ (وفي رواية) فَاتَّبِعُوْهَا وَلاَ تَلْتَفِتُوْا إِلَى قَوْلِ أَحَدٍ رواه الهروي والخطيب والنووي في المجموع (1/63) أنظر صفة صلاة النبي صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
"Apabila kamu mendapati dalam kitabku pendapat-pendapatku yang menyalahi Sunnah Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam, maka peganglah Sunnah Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam dan tinggalkanlah pendapatku. Dalam riwayat lain beliau berkata: Ikutilah Sunnah Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam, dan jangan kamu menoleh kepada pendapat siapapun."
Diriwayatkan oleh Imam al-Harawi, al-Khathib al-Baghdadi, sebagaimana yang dikatakan oleh Imam an-Nawawi dalam kitab Majmu' Syarah Muhadzdzab[17]. Lihat kitab Shifat Shalat Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam, karya Imam al-Albany.
كُلُّ مَسْأَلَةٍ صَحَّ فِيْهَا الْخَبَرُ عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عِنْدَ أَهْلِ النَّقْلِ بِخِلاَفِ مَا قُلْتُ، فَأَنَا رَاجِعٌ عَنْهَا فِيْ حَيَاتِيْ وَبَعْدَ مَوْتِيْ رواه أبو نعيم في الحلية والهروي كما قاله الألباني في صفة صلاة النبي صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ (ص30)
"Setiap masalah yang sudah sah haditsnya dari Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam menurut para ulama-ulama hadits, akan tetapi pendapatku menyelisihi hadits yang shahih, maka aku akan rujuk dari pendapatku, dan aku akan ikut hadits Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam yang shahih baik ketika aku masih hidup, maupun setelah aku wafat."
Diriwayatkan oleh al-Hafizh Abu Nu'aim al-Ashba-hani dan al-Harwi, lihat di kitab Sifat Shalatin Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam karya Imam al-Albany
كُلُّ مَا قُلْتُ، فَكَانَ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خِلاَفَ قَوْلِيْ مِمَّا يَصِحُّ فَحَدِيْثُ النَّبِيِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَوْلَى. فَلاَ تُقَلِّدُوْنِيْ رواه ابن أبي حاتم وأبو نعيم وابن عساكير أنظر صفة صلاة النبو صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ للألباني .
"Setiap pendapatku yang menyalahi hadits Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam. Itulah yang wajib diikuti, dan janganlah kamu taqlid kepadaku."
Diriwayatkan oleh : Imam Ibnu Abi Hatim, al-Hafizh Abu Nu'aim dan al-Hafizh Ibnu 'Asakir. Lihat kitab Sifat Shalat Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam, karya Imam al-Albani.
QUNUT NAZILAH
Qunut Nazilah adalah do'a qunut ketika musibah atau kesulitan menimpa kaum Muslimin, seperti peperangan, terbunuhnya kaum Muslimin atau diserangnya kaum Muslimin oleh orang-orang kafir. Qunut Nazilah, yaitu mendo'akan kebaikan atau kemenangan bagi kaum Muk-minin dan mendo'akan kecelakaan atau kekalahan, kehancuran dan kebinasaan bagi orang-orang kafir, Musyrikin dan selainnya yang memerangi kaum Muslimin. Qunut Nazilah ini hukumnya sunnat, dilakukan sesudah ruku' di raka'at terakhir pada shalat wajib lima waktu, dan hal ini dilakukan oleh Imam atau Ulil Amri.
Imam at-Tirmidzi berkata: "Ahmad (bin Hanbal) dan Ishaq bin Rahawaih telah berkata: "Tidak ada qunut dalam shalat Fajar (Shubuh) kecuali bila terjadi Nazilah (musibah) yang menimpa kaum Muslimin. Maka, apabila telah terjadi sesuatu, hendaklah Imam (yakni Imam kaum Muslimin atau Ulil Amri) mendo'akan kemenangan bagi tentara-tentara kaum Muslimin."[18] Berdasarkan hadits Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhuma, bahwasanya Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam melakukan qunut satu bulan berturut-turut pada shalat Zhuhur, Ashar, Maghrib, 'Isya dan Shubuh di akhir setiap shalat, yakni apabila beliau telah membaca "Sami'allaahu liman hamidah" dari raka'at terakhir, beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam mendo'akan kecelakaan atas mereka, satu kabilah dari Bani Sulaim, Ri'il, Dzakwan dan Ushayyah sedangkan orang-orang yang di belakang beliau mengaminkannya[19]
Milad ke-7, Pejuang Subuh Rokan Hilir Agendakan Kegiatan Ziarah Walisongo dan Studi ke-4 Masjid di Pulau Jawa
Fatwa Ulama: Hukum Terlambat Bekerja Karena Salat
Semua Pihak Diminta Serius Perangi Narkotika
Kupas Tuntas Hukum dan Adab Berkurban
Hukum Shalat Tarawih dan Berapakah Jumlah Rakaatnya