Hukum Merutinkan Qunut di Shalat Subuh

Oleh Al-Ustadz Yazid bin ‘Abdul Qadir Jawas حفظه الله
Rio Agusri - Senin, 13 Mei 2024 05:47 WIB
Hukum Merutinkan Qunut di Shalat Subuh
Ilustrasi (Foto int)

Hadits-hadits tentang qunut Nazilah banyak sekali, dilakukan pada shalat lima waktu sesudah ruku' di raka'at yang terakhir.

Imam an-Nawawi memberikan bab di dalam Syarah Muslim dari Kitabul Masaajid, bab 54 : Istihbaabul Qunut fii Jami'ish Shalawat idzaa Nazalat bil Muslimin Nazilah (bab Disunnahkan Qunut pada Semua Shalat (yang Lima Waktu) apabila ada musibah yang menimpa kaum Muslimin)[20]

Bersambung ke pembahasan selanjutnya

Footnote
[1] Dalam kitab al-Musnad (III/162).
[2] Dalam kitab al-Mushannaf (III/110).
[3] Dalam kitab al-Mushannaf (II/312).
[4] Dalam kitab Syarah Ma'anil Atsar (I/244).
[5] Dalam kitab as-Sunan (II/39).
[6] Dalam kitab Sunanul Kubra (II/201).
[7] Dalam kitab Syarhus Sunnah (III/124).
[8] Dalam kitab al-'Ilalul Mutanahiyah (I/441) no.753, dengan lafazh sebagai berikut:

أَنَّ رَسُوْلَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَنَتَ فِيْ صَلاَةِ الْغَدَاةِ حَتَّى مَاتَ

"Sesungguhnya Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam qunut pada shalat Shubuh sampai beliau wafat."

[9] Lihat juga kitab Tarikh Baghdad XI/146, Tahdzibut Tahdzib XII/57
[10] Lihat kitab Silsilah Ahaadits adh-Dha'iifah no. 1238.
[11] Dalam kitab as-Sunan: II/166-167 no. XIV/1679 cet. Darul Ma'rifah.
[12] Dalam kitab Sunanul Kubra: II/201
[13] Di dalam kitab Sunanul Kubra II/202
[14] Lihat di dalam kitab Sunanul Kubra II/201-202
[15] Nama lengkap beliau adalah Ahmad bin Ali bin Muhammad al-Kannani al-Asqalani Abul Fadhl, dan beliau terkenal sebagai ulama dari kalangan madzhab Imam asy-Syafi'i, lihat biografi lengkapnya di kitab al-Jawaahir wad Durar fii Tarjamati Syaikhil Islam Ibni Hajar oleh syaikh as-Sakawi dan kitab-kitab yang lainnya
[16] Lihat juga di kitab Bulughul Maram no. 289, karya Al-Hafidzh
[17] Majmu' Syarahil Muhadzdzab I/63
[18] Tuhfatul Ahwadzi Syarah at-Tirmidzi II/434.
[19] Abu Dawud no.1443, al-Hakim I/225 dan al-Baihaqi II/200 & 212, lihat Irwaa-ul ghaliil II/163.
[20] Lihat juga masalah ini dalam Zaadul Ma'aad I/272-273, Nailul Authar II/374-375 –muhaqqaq

Sumber : almanhaj.or.id

SHARE:
Tags
Berita Terkait
Komentar
Berita Terbaru