Sampai Dimanakah Batas Toleransi ?
Amma ba'du,
Sesungguhnya agama kita terbangun di atas rasa toleransi dan menghilangkan kesusahan. Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
بُعِثْتُ بِالْحَنِيْفِيَةَ السَّمْحَةِ
Aku diutus dengan membawa agama yang lurus dan toleran[1]
Allah Azza wa Jalla berfirman:
وَمَا جَعَلَ عَلَيْكُمْ فِي الدِّينِ مِنْ حَرَجٍ
Dan Dia sekali-kali tidak menjadikan suatu kesempitan untuk kamu dalam agama. [al-Hajj/22:78].
Sikap toleran dan menghilangkan kesempitan (kesusahan) merupakan ciri agama yang agung ini, berbeda dengan syariat agama-agama terdahulu yang banyak terdapat kekangan, dan belenggu yang menyusahkan, akibat dari penentangan dan penyelisihan mereka terhadap perintah-perintah Allah, serta sikap perlawanan mereka terhadap nabi-nabi yang diutus kepada mereka.
Sikap toleransi dan mempermudah dalam syariat Islam terdapat pada perintah, larangan dan pensyariatan Islam. Toleransi tidak bisa dimaknai dengan melepaskan atau meninggalkan hukum-hukum yang terkandung dalam syari'at, karena –jika demikian-, maka itu merupakan sikap lembek dalam urusan agama, bukan sikap toleransi yang diinginkan Islam.
Allah Ta'ala berfirman:
أَفَبِهَٰذَا الْحَدِيثِ أَنْتُمْ مُدْهِنُونَ
Maka apakah kamu menganggap remeh dengan al-Qur'an ini? [al-Waqi'ah/56:81]
Dan firman-Nya:
وَدُّوا لَوْ تُدْهِنُ فَيُدْهِنُونَ
Maka mereka menginginkan supaya kamu bersikap lunak lalu mereka bersikap lunak (pula kepadamu). [al-Qalam/68:9].
Dan musuh-musuh Islam tidak akan pernah ridha (suka) terhadap kita, sampai kita melepaskan agama secara menyeluruh serta mengikuti mereka.
Allah Azza wa Jalla berfirman:
وَلَنْ تَرْضَىٰ عَنْكَ الْيَهُودُ وَلَا النَّصَارَىٰ حَتَّىٰ تَتَّبِعَ مِلَّتَهُمْ
Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepada kamu hingga kamu mengikuti agama mereka. [al-Baqarah/2:120].
Dan firman-Nya:
Mengais Persatuan Umat di Antara Reruntuhan Gaza
Larangan Tasyabbuh ( Mengikuti orang kafir )
Milikilah Ilmu, Karena Ilmu Menjagamu
Hadiri Perayaan Cap Go Meh, Wamendagri Bima Arya Puji Toleransi di Kota Singkawang
Adakah Hari Sial Dalam Islam ?