Waktu Terlarang Untuk Shalat
Diperbolehkan juga shalat Tahiyyatul Masjid.
Berdasarkan sabda Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam :
إِذَا دَخَلَ أَحَدُكُمُ الْمَسْجِدَ فَلاَ يَجْلِسْ حَتَّى يُصَلِّيَ رَكْعَتَيْنِ.
"Jika salah seorang di antara kalian masuk masjid, maka janganlah duduk hingga shalat dua raka'at."[7]
Dilarang Shalat Sunnah setelah Fajar Terbit dan Sebelum Shalat Shubuh.
Dari Yasar bekas budak Ibnu 'Umar, dia berkata, "Ibnu 'Umar melihatku sedang shalat setelah fajar terbit. Lalu dia berkata, 'Wahai Yasar, sesungguhnya Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam keluar menemui kami ketika kami sedang melakukan shalat ini. Kemudian beliau bersabda, 'Hendaklah orang yang hadir di antara kalian memberitahu yang tidak hadir. Janganlah kalian shalat setelah fajar kecuali dua raka'at.'"[8]
Dilarang Shalat Sunnah setelah Iqamat
Dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu, Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
إِذَا أُقِيْمَتِ الصَّلاَةُ فَلاَ صَلاَةَ إِلاَّ الْمَكْتُوْبَةَ.
"Jika iqamat shalat sudah dikumandangkan, maka tidak ada shalat selain shalat wajib."[9]
Tempat-Tempat Dilarangnya Shalat
Dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu, Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
فُضِّلْتُ عَلَى اْلأَنْبِيَاءِ بِسِتٍّ: أُعْطِيْتُ جَوَامِعُ الْكَلِمِ، وَنُصِرْتُ بِالرُّعْبِ، وَأُحِلَّتْ لِيَ الْغَنَائِمُ، وَجُعِلَتْ لِيَ اْلأَرْضُ طَهُوْرًا وَمَسْجِدًا، وَأُرْسِلْتُ إِلَى الْخَلْقِ كَافَّةً، وَخُتِمَ بِيَ النَّبِيُّوْنَ.
"Aku dilebihkan atas para Nabi dengan enam perkara: (1) aku diberi ucapan yang singkat dan penuh makna, (2) aku ditolong dengan rasa takut (musuh atasku), (3) dihalalkan bagiku harta rampasan perang, (4) bumi dijadikan sarana bersuci dan masjid untukku, (5) aku diutus untuk seluruh makhluk, dan (6) para Nabi ditutup denganku."[10]
Semua bumi adalah masjid selain yang dikecualikan dalam beberapa hadits di bawah ini:
Dari Jundub bin 'Abdillah al-Bajali Radhiyallahu anhu, dia berkata, "Lima hari sebelum Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam meninggal aku mendengar beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
أَلاَ وَإِنَّ مَنْ كَـانَ قَبْلَكُمْ كَـانُوْا يَتَّخِذُوْنَ قُبُوْرَ أَنْبِيَائِهِمْ وَصَالِِحِيْهِمْ مَسَاجِدَ، أَلاَ فَلاَ تَتَّخِذُوا الْقُبُرْرَ مَسَـاجِدَ، إِنِّى أَنْهَاكُمْ عَنْ ذلِكَ.
'Ketahuilah, sesungguhnya orang-orang sebelum kalian menjadikan kubur-kubur para Nabi dan orang-orang shalih mereka sebagai masjid. Ketahuilah, janganlah kalian menjadikan kubur sebagai masjid. Sesungguhnya aku melarang kalian melakukan hal itu.'"[11]
Dari Abu Sa'id al-Khudri Radhiyallahu anhu, dia mengatakan bahwasanya Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
اَلأَرْضُ كُلُّهَا مَسْجِدٌ إِلاَّ الْمَقْبَرَةَ وَالْحَمَّامَ.
"Semua bumi adalah masjid kecuali kubur dan kamar mandi."[12]
Dari al-Barra' bin 'Azib Radhiyallahu anhu, dia mengatakan bahwasanya Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam ditanya tentang shalat di penderuman unta. Beliau menjawab:
لاَ تُصَلُّوْا فِي مَبَارِكِ اْلإِبِلِ فَإِنَّهَا مِنَ الشَّيَاطِيْنِ.
"Janganlah kalian shalat di penderuman unta. Karena ia termasuk syaitan."
Dan beliau ditanya tentang shalat di penambatan kambing. Beliau menjawab:
صَلُّوْا فِيْهَا فَإِنَّهَا بَرَكَةٌ.
"Shalatlah di situ, karena ia adalah barakah."[13]
_______
Footnote
[1] Shahih: [Shahiih Sunan Ibni Majah (no. 1233)], Shahiih Muslim (I/568 no. 831), Sunan Abi Dawud ('Aunul Ma'buud) (VIII/481 no. 3176), Sunan at-Tirmidzi (II/247 no. 1035), Sunan an-Nasa-i (I/275), dan Sunan Ibni Majah (I/486 no. 1519).
[2] Shahih: [Al-Misykaah (no. 1042)], dan Shahiih Muslim (I/570 no. 832).
[3] Shahih: [At-Targhiib (no. 689)], Shahiih al-Bukhari (Fat-hul Baari) (II/370 no. 883).
[4] Shahih: [Shahiih Sunan Ibni Majah (no. 1036)], Sunan Ibni Majah (I/398 no. 1254), Sunan at-Tirmidzi (II/178 no. 869), dan Sunan an-Nasa-i (V/223).
[5] Muttafaq 'alaihi: [Shahiih al-Bukhari (Fat-hul Baari) (II/70 no. 597)], Shahiih Muslim (I/477 no. 684), dan dan Sunan Abi Dawud ('Aunul Ma'buud) (II/113 no. 438). Pada riwayat lain tidak disebutkan kalimat "Tidak ada kaffarat baginya kecuali itu," sebagaimana diriwayatkan dalam Sunan an-Nasa-i (I/293), Sunan at-Tirmidzi (I/114 no. 187), dan Sunan Ibni Majah (I/227 no. 696).
[6] Telah berlalu takhrijnya.
[7] Muttafaq 'alaihi: [Shahiih al-Bukhari (Fat-hul Baari) (III/48 no. 1163)], Shahiih Muslim (I/495 no. 714), Sunan Abi Dawud ('Aunul Ma'buud) (II/133 no. 463), Sunan at-Tirmidzi (I/198 no. 315), Sunan Ibni Majah (I/324 no. 1013), dan Sunan an-Nasa-i (II/53).
[8] Shahih: [Shahiih al-Jaami'ush Shaghiir (no. 5353)], dan Sunan Abi Dawud ('Aunul Ma'buud) (IV/158 no. 1264). At-Tirmidzi meriwayatkan secara singkat dengan lafazh: "Tidak ada shalat setelah fajar kecuali dua raka'at." (I/262 no. 417).
[9] Shahih: [Shahiih Sunan Ibni Majah (no. 945)], Shahiih Muslim (I/493 no. 710), Sunan at-Tirmidzi (I/264 no. 419), Sunan Abi Dawud ('Aunul Ma'buud) (IV/ 142 no. 1252), Sunan an-Nasa-i (II/116), dan Sunan Ibni Majah (1/364 no. 1151).
[10] Shahih: [Mukhtashar Shahiih Muslim (no. 257)], dan Shahiih Muslim (I/371/523).
[11] Shahih: [Irwaa'ul Ghaliil (no. 286)], dan Shahiih Muslim (I/377 no. 532).
[12] Shahih: [Shahiih Sunan Ibni Majah (no. 606)], Sunan Abi Dawud ('Aunul Ma'buud) (II/158 no. 488), Sunan Ibni Majah (I/246 no. 745), dan Sunan at-Tirmidzi (I/199 no. 316).
[13] Shahih: [Shahiih al-Jaami'ush Shaghiir (no. 7351)], dan Sunan Abi Dawud ('Aunul Ma'buud) (II/159 no. 489).
Sumber: almanhaj.or.id
Fatwa Ulama: Hukum Terlambat Bekerja Karena Salat
Hukum Shalat Tarawih dan Berapakah Jumlah Rakaatnya
Bersiwak dan Waktu-waktu yang Disunnahkan
Untukmu yang Masih Meninggalkan Shalat
Nikmat Sehat dan Waktu Luang