Kisah Qabil dan Habil
(b). Takwa sebab datangnya rezeki yang halal
وَمَنْ يَّتَّقِ اللّٰهَ يَجْعَلْ لَّهٗ مَخْرَجًا ۙ ٢ وَّيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُۗ
Siapa yang bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan membukakan jalan keluar baginya, dan menganugerahkan kepadanya rezeki dari arah yang tidak dia duga [Ath-Thalâq/65:2-3]
(c). Takwa sebab dimudahkannya segala urusan
وَمَنْ يَّتَّقِ اللّٰهَ يَجْعَلْ لَّهٗ مِنْ اَمْرِهٖ يُسْرًا
Siapa yang bertakwa kepada Allah, niscaya Dia menjadikan kemudahan baginya dalam urusannya. [Ath-Thalâq/65:4]
Demikian pula sabda Rasȗlullȃh Shallallahu 'alaihi wa sallam yang artinya,
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قِيلَ يَا رَسُولَ اللَّهِ مَنْ أَكْرَمُ النَّاسِ قَالَ أَتْقَاهُمْ
"Dari shabat Abu Hurairah Radhiyallahu anhu. dikatakan kepada Rasȗlullȃh Shallallahu 'alaihi wa sallam , "Wahai Rasûlullâh ! Siapakah manusia yang paling mulia?"Maka Rasûlullâh Shallallahu 'alaihi wa sallam menjawab, "Yang paling bertakwa." [1]
Dan masih banyak keutamaan lain yang telah Allâh Azza wa Jalla sebutkan dalam al-Qur'an dan dijelaskan oleh Rasȗlullȃh Shallallahu 'alaihi wa sallam dalam hadits-haditsnya
2. Rasa takut kepada Allâh Azza wa Jalla akan menghalangi seseorang dari perbuatan-perbuatan yang terlarang.
Ini diambil dari jawaban yang diucapkan oleh Habil kepada saudaranya,
لَىِٕنْۢ بَسَطْتَّ اِلَيَّ يَدَكَ لِتَقْتُلَنِيْ مَآ اَنَا۠ بِبَاسِطٍ يَّدِيَ اِلَيْكَ لِاَقْتُلَكَۚ اِنِّيْٓ اَخَافُ اللّٰهَ رَبَّ الْعٰلَمِيْنَ
"Sungguh kalau kamu menggerakkan tanganmu kepadaku untuk membunuhku, aku sekali-kali tidak akan menggerakkan tanganku kepadamu untuk membunuhmu. Sesungguhnya aku takut kepada Allâh, Rabb sekalian alam." [Al-Mâ'idah/5:28]
Maka rasa takut kepada Allâh Azza wa Jalla telah menjaga Habil dari perbuatan yang dilakukan oleh Qabil. Rasa takut kepada Allâh Azza wa Jalla juga bisa menjaga seseorang dari perbuatan maksiat dan mendorongnya untuk berbuat ketaatan dan Allâh Azza wa Jalla menjanjikan surga untuk orang-orang yang takut kepada-Nya.
Allâh Azza wa Jalla berfirman :
وَاَمَّا مَنْ خَافَ مَقَامَ رَبِّهٖ وَنَهَى النَّفْسَ عَنِ الْهَوٰىۙ ٤٠ فَاِنَّ الْجَنَّةَ هِيَ الْمَأْوٰىۗ
Dan adapun orang-orang yang takut kepada kebesaran Rabbnya dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya, maka sesungguhnya syurgalah tempat tinggal(nya). [An-Nâzi'ât/79:40-41]
3. Orang tua yang shalih tidak dicela dengan sebab perbuatan anaknya yang thalih (tidak shalih)
Adam Alaihissallam adalah seorang nabi dan orang tua yang shalih. Perbuatan Qabil, putranya bukan menjadi cela bagi beliau. Demikian pula nabi-nabi yang lain yang Allâh Azza wa Jalla uji dengan anak-anak mereka yang membangkang, seperti Nabi Nûh q . Beliau juga tidak dicela dengan sebab anaknya yang kafir. Karena mereka telah berusaha sekuat tenaga untuk mendidik dan mendakwahi anak mereka agar jauh dari kekufuran dan maksiat. Lihatlah nabi Nûh q yang berkata kepada putranya:
وَنَادٰى نُوْحُ ِۨابْنَهٗ وَكَانَ فِيْ مَعْزِلٍ يّٰبُنَيَّ ارْكَبْ مَّعَنَا وَلَا تَكُنْ مَّعَ الْكٰفِرِيْنَ
Dan Nûh memanggil anaknya, sedang anak itu berada di tempat yang jauh terpencil, "Hai anakku! Naiklah (ke kapal) bersama kami dan janganlah kamu berada bersama orang-orang yang kafir." [Hûd/11:42]
Apabila orang tua telah berusaha dalam mendidik anaknya namun anaknya cenderung kepada perbuatan yang terlarang bahkan terjerumus kedalamnya, maka orang tua tidak mendapatkan cela disebabkan perbuatan anaknya tersebut. Wallâhu a'lam.
(Disarikan dari al-Furqân min Qashashil Qur'an, Abu Islam Shalih bin Thaha Abdul Aziz)
Footnote
[1] HR.Bukhari no 3383, Muslim no 2378
Sumber :almanhaj.or.id
Kisah Juraij dan Wanita Pelacur
Kisah Ulama yang Wafat Husnul Khotimah
Hasad yang Diperbolehkan
Ketika Orang Yahudi Mengkhianati Piagam Madinah
Kisah Mus'ab Bin Umair