Lima Faedah Keutamaan Puasa Syawal
Faedah kelima: Melaksanakan puasa syawal menandakan bahwa ibadahnya kontinu dan bukan musiman saja[14]
Amalan yang seseorang lakukan di bulan Ramadhan tidaklah berhenti setelah Ramadhan itu berakhir. Amalan tersebut seharusnya berlangsung terus selama seorang hamba masih menarik nafas kehidupan.
Sebagian manusia begitu bergembira dengan berakhirnya bulan Ramadhan karena mereka merasa berat ketika berpuasa dan merasa bosan ketika menjalaninya. Siapa yang memiliki perasaan semacam ini, maka dia terlihat tidak akan bersegera melaksanakan puasa lagi setelah Ramadhan karena kepenatan yang ia alami. Jadi, apabila seseorang segera melaksanakan puasa setelah hari 'ied, maka itu merupakan tanda bahwa ia begitu semangat untuk melaksanakan puasa, tidak merasa berat dan tidak ada rasa benci.
Ada sebagian orang yang hanya rajin ibadah dan shalat malam di bulan Ramadhan saja, lantas dikatakan kepada mereka,
بئس القوم لا يعرفون لله حقا إلا في شهر رمضان إن الصالح الذي يتعبد و يجتهد السنة كلها
"Sejelek-jelek orang adalah yang hanya rajin ibadah di bulan Ramadhan saja. Sesungguhnya orang yang sholih adalah orang yang rajin ibadah dan rajin shalat malam sepanjang tahun". Ibadah bukan hanya di bulan Ramadhan, Rajab atau Sya'ban saja.
Asy Syibliy pernah ditanya, "Bulan manakah yang lebih utama, Rajab ataukah Sya'ban?" Beliau pun menjawab, "Jadilah Rabbaniyyin dan janganlah menjadi Sya'baniyyin." Maksudnya adalah jadilah hamba Rabbaniy yang rajin ibadah di setiap bulan sepanjang tahun dan bukan hanya di bulan Sya'ban saja. Kami kami juga dapat mengatakan, "Jadilah Rabbaniyyin dan janganlah menjadi Romadhoniyyin." Maksudnya, beribadahlah secara kontinu (ajeg) sepanjang tahun dan jangan hanya di bulan Ramadhan saja.Semoga Allah memberi taufik.
'Alqomah pernah bertanya pada Ummul Mukminin 'Aisyah mengenai amalan Rasulullahshallallahu 'alaihi wa sallam, "Apakah beliau mengkhususkan hari-hari tertentu untuk beramal?" 'Aisyah menjawab,
لاَ. كَانَ عَمَلُهُ دِيمَةً
"Beliau tidak mengkhususkan waktu tertentu untuk beramal. Amalan beliau adalah amalan yang kontinu (ajeg)."[15]
Amalan seorang mukmin barulah berakhir ketika ajal menjemput. Al Hasan Al Bashri mengatakan, "Sesungguhnya Allah Ta'ala tidaklah menjadikan ajal (waktu akhir) untuk amalan seorang mukmin selain kematian." Lalu Al Hasan membaca firman Allah,
وَاعْبُدْ رَبَّكَ حَتَّى يَأْتِيَكَ الْيَقِينُ
"Dan sembahlah Rabbmu sampai datang kepadamu al yaqin (yakni ajal)." (QS. Al Hijr: 99).[16]Ibnu 'Abbas, Mujahid dan mayoritas ulama mengatakan bahwa "al yaqin"adalah kematian. Dinamakan demikian karena kematian itu sesuatu yang diyakini pasti terjadi. Az Zujaaj mengatakan bahwa makna ayat ini adalah sembahlah Allah selamanya. Ahli tafsir lainnya mengatakan, makna ayat tersebut adalah perintah untuk beribadah kepada Allah selamanya, sepanjang hidup.[17]
Sebagai penutup, perhatikanlah perkataan Ibnu Rajab berikut, "Barangsiapa melakukan dan menyelesaikan suatu ketaaatan, maka di antara tanda diterimanya amalan tersebut adalah dimudahkan untuk melakukan amalan ketaatan lainnya. Dan di antara tanda tertolaknya suatu amalan adalah melakukan kemaksiatan setelah melakukan amalan ketaatan. Jika seseorang melakukan ketaatan setelah sebelumnya melakukan kejelekan, maka kebaikan ini akan menghapuskan kejelekan tersebut. Yang sangat bagus adalah mengikutkan ketaatan setelah melakukan ketaatan sebelumnya. Sedangkan yang paling jelek adalah melakukan kejelekan setelah sebelumnya melakukan amalan ketaatan. Ingatlah bahwa satu dosa yang dilakukan setelah bertaubat lebih jelek dari 70 dosa yang dilakukan sebelum bertaubat. …Mintalah pada Allah agar diteguhkan dalam ketaatan hingga kematian menjemput. Dan mintalah perlindungan pada Allah dari hati yang terombang-ambing."[18]
Semoga Allah senantiasa memberi taufik kepada kita untuk istiqomah dalam ketaatan hingga maut menjemput. Hanya Allah yang memberi taufik. Semoga Allah menerima amalan kita semua di bulan Ramadhan dan memudahkan kita untuk menyempurnakannya dengan melakukan puasa Syawal.
Segala puji bagi Allah yang dengan nikmat-Nya segala kebaikan menjadi sempurna.
Catatan kaki
[1]HR. Muslim no. 1164, dari Abu Ayyub Al Anshori
[2]Syarh Muslim, 4/186, Mawqi' Al Islam, Asy Syamilah.
[3]QS. Al An'am ayat 160.
[4]HR. Ibnu Majah, Ibnu Khuzaimah dan Ibnu Hibban, dari Tsauban –bekas budak Rasulullahshallallahu 'alaihi wa sallam. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits inishahih. LihatShahih At Targhib wa At Tarhibno. 1007.
[5]LihatFathul Qodir,Asy Syaukani,3/6, Mawqi' At Tafaasir, Asy Syamilah danTaisir Al Karimir Rahman, 'Abdurrahman bin Nashir As Sa'di, hal. 282, Muassasah Ar Risalah, cetakan pertama, 1420 H.
[6]LihatLatho-if Al Ma'arif, Ibnu Rajab Al Hambali, hal. 394, Daar Ibnu Katsir, cetakan kelima, 1420 H [Tahqiq: Yasin Muhammad As Sawaas]
[7]-idem-
[8]Tafsir Al Qur'an Al 'Azhim,Ibnu Katsir, 8/417, Daar Thoyyibah, cetakan kedua, 1420 H [Tafsir Surat Al Lail]
[9]Latho-if Al Ma'arif, hal. 394.
[10]Fatawa Al Lajnah Ad Da-imah Lil Buhuts Ilmiyyah wal Ifta', pertanyaan ke-3, Fatawa no. 102, 10/139-141
[11]Latho-if Al Ma'arif, hal. 394.
[12]HR. Bukhari no. 4837 dan Muslim no. 2820.
[13]LihatLatho-if Al Ma'arif, hal. 394-395.
[14]Pembahasan berikut kami olah dariLatho-if Al Ma'arif, hal. 396-400
[15]HR. Bukhari no. 1987 dan Muslim no. 783
[16]Latho-if Al Ma'arif, hal. 398.
[17]LihatZaadul Masiir, Ibnul Jauzi, 4/79, Mawqi' At Tafaasir, Asy Syamilah