Jauhi Sifat Guluw
Benarkah kalian yang telah berkata begini dan begitu ? Demi Allâh , sesungguhnya aku adalah orang yang paling takut kepada Allâh dan paling taqwa kepada-Nya di antara kalian. Akan tetapi aku berpuasa dan aku pun berbuka, aku shalat dan aku pun tidur, dan aku juga menikahi wanita. Maka, barangsiapa tidak menyukai sunnahku, ia tidak termasuk golonganku.[11]
Termasuk dari sikap ghuluw juga yaitu berlebihan dan melampaui batas dalam menyanjung Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam , sehingga mengangkatnya di atas derajatnya sebagai hamba dan Rasul (utusan) Allâh, menisbatkan kepadanya sebagian dari sifat-sifat Ilahiyyah. Hal itu misalnya dengan memohon dan meminta pertolongan kepada beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam , tawassul dengan beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam , atau tawassul dengan kedudukan dan kehormatan beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam , bersumpah dengan nama beliau, sebagai bentuk 'ubudiyyah kepada selain Allâh Azza wa Jalla, perbuatan ini adalah syirik.
Rasûlullâh Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda :
لَا تُـطْـرُوْنِـيْ كَمَـا أَطْرَتِ النَّصَارَى ابْنَ مَـرْيَمَ، فَإِنَّمَـا أَنَـا عَبْدُهُ، فَـقُوْلُوْا عَبْـدُ اللّـهِ وَرَسُوْلُـهُ
Janganlah kalian berlebih-lebihan dalam memujiku, sebagaimana orang-orang Nasrani telah berlebih-lebihan memuji 'Isa putera Maryam. Aku hanyalah hamba-Nya, maka katakanlah, ''Abdullâh wa Rasûluhu (hamba Allâh dan Rasul-Nya).'"[12]
Adapun ghuluw dalam mu'amalah yaitu dengan bersikap keras dalam mengharamkan segala sesuatu. Dan yang menjadi lawan sikap keras ini adalah sikap menggampangkan, seperti perkataan seseorang yang menghalalkan segala cara yang dapat mengembangkan harta dan ekonomi hingga menghalalkan riba, penipuan, dan selain itu.
Sedangkan yang pertengahan ialah mu'amalah yang dibangun di atas sikap amanah, jujur, adil dan halal, yaitu setiap mu'amalah yang sesuai dengan nash-nash al-Qur'ân dan as-Sunnah menurut pemahaman Salafush Shalih.
Pembahasan tentang ghuluw sangat luas, ini adalah sebagian kecil yang dapat dibahas. Mudah-mudahan bermanfaat.
FAWAA-ID
Bahwa syirik yang pertama kali terjadi di muka bumi ini adalah karena sikap ghuluw (berlebihan) terhadap orang-orang shalih.
Faktor yang menyebabkan manusia menyimpang dan keluar dari agama Islam adalah ghuluw (berlebihan) terhadap orang-orang shalih.
Syari'at Islam dan fitrah manusia menolak adanya ghuluw, karena membawa kepada kebinasaan.
Dalam Islam dilarang dan tidak boleh menyemen kubur, membangun kubur, menulis nama si mayit, dan tidak boleh membuat patung-patung.
Dosanya orang-orang berilmu yang mencampur-adukkan antara kebenaran dan kebatilan, serta membiarkan ummat terjatuh ke dalam ghuluw, kesyirikan, dan bid'ah.
Ayat dalam surat Nûh menunjukkan bahwa berlebih-lebihan dan melampaui batas terhadap orang-orang shalih adalah penyebab terjadinya syirik dan ditinggalkannya tuntunan agama para Nabi.
Bid'ah lebih disenangi oleh Iblis daripada maksiat, karena maksiat pelakunya masih mau taubat, sedangkan bid'ah pelakunya sulit untuk bertaubat.
Syirik adalah dosa besar yang paling besar dan bid'ah semuanya adalah sesat, meskipun niat pelakunya baik.
Kaidah umum, yaitu bahwa sikap yang berlebihan dalam agama dilarang; dan mengetahui pula dampak yang diakibatkannya.
Dilarang berdiam diri di kuburan dengan niat untuk suatu amal shalih, karena akan membawa kepada penyembahan terhadap kubur.
Larangan adanya patung-patung dan hikmah memusnahkannya, yaitu untuk menjaga kemurnian tauhid dan mengikis kemusyrikan.
Sikap kaum Nabi Nuh Alaihissallam yang berlebihan terhadap orang-orang shalih tidak lain karena mengharap syafa'at mereka. Akhirnya kuburan dan patung orang shalih disembah.
Ketulusan hati beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam kepada kita dengan memperingatkan bahwa orang-orang yang berlebihan tindakannya akan binasa.
Dinyatakan dalam kisah bahwa patung-patung itu baru disembah setelah ilmu agama dilupakan. Dengan demikian, dapat diketahui pentingnya ilmu syar'i dan bahayanya apabila hilang.
MARAAJI'
Al-Qur'ânul Karîm
Kutubus sittah dan lainnya.
Iqtidhâ'-us Shirâtil Mustaqîm, tahqiq DR. Nashir bin 'Abdul Karim al-'Aql.
Ighâtsatul Lahfân, takhrij Syaikh al-Albani dan tahqiq Syaikh Ali Hasan.
Fat-hul Majîd li Syarh Kitâbit Tauhîd, tahqiq DR. Walid bin Abdurrahman Aal Furayyan.
Al-Qaulul Mufîd 'ala Kitâbit Tauhîd, karya Syaikh al-'Utsaimin.
Dan lainnya.
Apa yang Dibutuhkan Pria dan Wanita
Terpujinya Sifat Qona'ah
Bahaya Sifat Hasad
Bahaya Sifat Sombong, Iri, Emosi dan Syahwat
Kapolsek Bagan Sinembah AKP Gian Upah-Upah CJH di Masjid Fastaqul Khairat Balai Jaya
Polsek Benai Bersama Bhayangkari Ranting Tebar Kebaikan untuk Sesama di Jum’at Berkah
Wujudkan Lingkungan Bersih, Satgas Yonif 521/DY Bersama Warga Gelar Karya Bakti di Area Kantor Desa Apalapsili
Bupati Pidie Jaya: Musrenbang Wadah Partisipasi Masyarakat dan Pemerintah
Sinergi Tiga Pilar, Polsek Bagan Sinembah Amankan Pengedar Narkoba di Suka Tani
Pelayanan IGD RS TAS Beureunuen Pidie Rendah, Direktur Bilang Begini
Pasca Demostran, Kapolda Riau Cooling System di Panipahan serta Hadirkan Duta Anti Narkoba