Jihad Menundukkan Hawa Nafsu

Oleh : M. Saifudin Hakim
Rio Agusri - Minggu, 05 Mei 2024 01:12 WIB
Jihad Menundukkan Hawa Nafsu
Ilustrasi (Foto int)

AllahTa'alatelah membentuk dua potensi jiwa pada diri manusia, yaitunafsun ammaratun bis-suu(jiwa yang selalu memerintahkan untuk melakukan keburukan) dannafsun muthmainnah(jiwa yang damai dan tenang). Keduanya saling berkebalikan dan bertolak belakang. Hal yang paling berat bagi seseorang yang memilikinafsun ammaratun bis-suuadalah melakukan ibadah, ketaatan, dan berbagai aktivitas yang diridai oleh AllahTa'ala. Sedangkan sebaliknya, perkara terberat bagi seseorang yang memilikinafsun muthmainnahadalah melakukan maksiat dan dosa.

Kedua jenis jiwa (nafsu) ini disebutkan dalam firman AllahTa'alaketika menceritakan perihal istri al-Aziz, pembesar Mesir,

وَمَا أُبَرِّئُ نَفْسِي ۚ إِنَّ النَّفْسَ لَأَمَّارَةٌ بِالسُّوءِ إِلَّا مَا رَحِمَ رَبِّي ۚ إِنَّ رَبِّي غَفُورٌ رَحِيمٌ

"Dan aku tidak membebaskan diriku (dari kesalahan),karena sesungguhnya nafsu itu selalu menyuruh kepada kejahatan, kecuali nafsu yang diberi rahmat oleh Rabb-ku.Sesungguhnya Rabb-ku Maha pengampun lagi Maha penyayang." (QS. Yusuf: 53)


Makna ayat di atas adalah hawa nafsu itu senantiasa memerintahkan pemiliknya untuk mengerjakan segala keburukan. Inilah karakter dan tabiat dasar dari hawa nafsu, kecuali orang-orang yang diberi taufik dan pertolongan AllahTa'alasehingga ia mampu berlari menyelamatkan diri dari dorongan nafsu tersebut. Itulah mengapa lanjutan ayat tersebut adalah,"kecuali nafsu yang diberi rahmat oleh Rabb-ku."Artinya, seseorang bisa selamat dari keburukan nafsunya itu semata-mata berkat rahmat dan karunia dari AllahTa'ala. AllahTa'alamenegaskan hal ini dalam firman-Nya,

وَلَوْلَا فَضْلُ اللَّهِ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَتُهُ مَا زَكَىٰ مِنْكُمْ مِنْ أَحَدٍ أَبَدًا وَلَٰكِنَّ اللَّهَ يُزَكِّي مَنْ يَشَاءُ ۗ وَاللَّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ

"Sekiranya tidaklah karena karunia Allah dan rahmat-Nya kepada kamu sekalian, niscaya tidak seorang pun dari kamu bersih (dari perbuatan-perbuatan keji dan mungkar itu) selama-lamanya, tetapi Allah membersihkan siapa saja yang dikehendaki-Nya. Dan Allah Maha mendengar lagi Maha mengetahui." (QS. An-Nur: 21)

Nabishallallahu 'alaihi wasallamjuga pernah memberikan edukasi kepada para sahabat dalam khutbah hajat yang disampaikan beliau. Beliaushallallahu 'alaihi wasallammembimbing mereka agar mengucapkan doa,

الْحَمْدَ لِلهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا

"Segala puji bagi Allah. Kami memuji-Nya, meminta pertolongan kepada-Nya, memohon pengampunan-Nya, dan meminta perlindungan kepada-Nya dari keburukan jiwa kami dan dari kejelekan perbuatan kami." (HR. Abu Dawud no. 2118,Tirmidzino. 1105, An-Nasa'i no. 1404, dan Ibnu Majah no. 1892, dinilai sahih oleh Al-Albani)


Pada hadis di atas, Nabishallallahu 'alaihi wasallammenyebutkan terlebih dahulu keburukan jiwa, sebelum menyebutkan kejelekan perbuatan. Hal ini menunjukkan bahwa kejelekan perbuatan (tindakan) itu berasal dari keburukan jiwa. Apabila jiwanya buruk, ia akan mengajak pemiliknya untuk melakukan perkataan dan perbuatan yang jelek. Ia tidak akan selamat, kecuali apabila AllahTa'alamenyelamatkan dirinya dari belenggu hawa nafsu tersebut.

SHARE:
Tags
Berita Terkait
Komentar
Berita Terbaru