Pemimpin Adalah Gambaran Rakyat

Oleh Syaikh Abdulmalik bin Ahmad bin al-Mubarak Ramadhani
Rio Agusri - Jumat, 16 Februari 2024 17:31 WIB
Pemimpin Adalah Gambaran Rakyat
Ilustrasi (foto int)

datanews.id -"Kalian akan dipimpin oleh orang yang seperti kalian"Ungkapan ini bukan hadits Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam meski sangat terkenal di tengah masyarakat[1]. Ungkapan ini adalah sebuah kata hikmah yang sering diungkapkan oleh para sejarawan dan ahli sosial. Seakan ungkapan tersebut sudah menjadi kaidah baku dalam masalah kepemimpinan dan didukung oleh penelitian terhadap sejarah. Faktanya, hampir semua jama'ah atau kelompok masyarakat itu dipimpin oleh orang yang sesuai dengan kwalitas kebaikan masyarakatnya. Jadi, setiap pemimpin adalah cerminan rakyatnya, sebagaimana ketika Allâh Azza wa Jalla menjadikan Fir'aun sebagai penguasa bagi kaumnya, karena mereka sama seperti Fir'aun. Allâh Azza wa Jalla berfirman :


أَفَنَضْرِبُ عَنْكُمُ الذِّكْرَ صَفْحًا أَنْ كُنْتُمْ قَوْمًا مُسْرِفِينَ

Maka Fir'aun mempengaruhi kaumnya (dengan perkataan itu) lalu mereka patuh kepadanya. Karena sesungguhnya mereka adalah kaum yang fasik[Az-Zukhruf/43:54]

Dalam ayat ini Allâh Azza wa Jalla menegaskan bahwa kaum Fir'aun adalah orang-orang fasik, oleh karena itu, Allâh Azza wa Jalla menjadikan orang yang seperti mereka sebagai penguasa mereka. Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata, "al-khafîf[2]berarti orang dungu yang tidak beramal dengan ilmunya, dan ia selalu mengikuti hawa nafsunya."[3]

Jadi sejatinya ungkapan"Kalian akan dipimpin oleh orang yang seperti kalian"adalah kata hikmah zaman dulu kala. Al-Ajlauni berkata, "Imam Thabrani rahimahullah meriwayatkan dari Hasan al-Bashri rahimahullah bahwa ia mendengar seorang laki-laki mendoakan keburukan untuk al-Hajjâj (salah seorang pemimpin yang kejam), lantas ia berkata, "Janganlah kamu lakukan itu! Kalian diberikan pemimpin seperti ini karena diri kalian sendiri. Kami khawatir, jika al-Hajjâj digulingkan atau meninggal, maka monyet dan babi yang akan menjadi penguasa kalian, sebagaimana telah diriwayatkan bahwapemimpin kalian adalah buah dari amalan kaliandankalian akan dipimpin oleh orang yang seperti kalian.[4]

Perkataan beliau rahimahullah "telah diriwayatkan …" menunjukkan bahwa kaidah ini sudah ada sejak dahulu, bahkan ada beberapa pernyataan dari kalanganassalafusshâlihtentang penisbatan kalimat ini kepada sebagian para Nabi terdahulu. Tentu ini sudah cukup menjadi bukti nyata akan keberadaan kaidah ini di zaman dahulu. Namun kaidah ini diketahui awal mulanya meskipun ia sudah menjadi kaidah baku dalam masalah kerakyatan dan kepemimpinan.

Telah dijelaskan didepan bahwa individu adalah sebab pertama munculnya bencana, juga telah dijelaskan bahwa semua orang itu akan merasakan buah dari amal perbuatannya. Diantara wujud dari buah amalannya itu adalah kondisi para pemimpin mereka. Karena kondisi mereka sesuai dengan prilaku masyarakat, sebagaimana peribahasa bahasa arab yang artinya kezhaliman penguasa itu disebabkan oleh kezhaliman yang dilakukan rakyat.

Dalil-dalil al-Quran dan as-Sunnah serta pemahaman para salaf menyangkut kaidah ini :
Diantara dalil-dalil dari al-Qur'an dan Hadits Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam serta pemahaman salaf mengenai kaidah ini adalah dalil-dalil yang telah disebutkan dalam pembahasan tentang (hukuman disebabkan oleh dosa), misalnya :

Firman Allâh Azza wa Jalla :


وَمَا أَصَابَكُمْ مِنْ مُصِيبَةٍ فَبِمَا كَسَبَتْ أَيْدِيكُمْ وَيَعْفُو عَنْ كَثِيرٍ

Dan apa saja musibah yang menimpa kamu maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allâh memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu)[As-Syûra/42:30]

Kezhaliman seorang pemimpin adalah musibah yang mengancam umat. Dan Allâh sudah memberitahukan bahwa penyebab musibah adalah kesalahan umat.

Dalil lain untuk kaidah ini adalah kisah perjalanan hidup Rasûlullâh Shallallahu 'alaihi wa sallam yang memfokuskan diri untuk mendakwahi masyarakat umum, tidak fokus pada jajaran konglomerat, pejabat, penguasa serta tokoh masyarakat. Cara dakwah semacam inilah yang merupakan metode berdakwahnya para Nabi.

SHARE:
Tags
Berita Terkait
Komentar
Berita Terbaru