Pemimpin Adalah Gambaran Rakyat

Oleh Syaikh Abdulmalik bin Ahmad bin al-Mubarak Ramadhani
Rio Agusri - Jumat, 16 Februari 2024 17:31 WIB
Pemimpin Adalah Gambaran Rakyat
Ilustrasi (foto int)

Imam Ibnu Qayyim al-Jauziyah rahimahullah menyapaikan sebuah pesan yang sangat menyentuh, seakan belum pernah ada pesan ahli ilmu yang lebih menyentuh dari itu. Beliau t mengatakan, "Renungilah hikmah Allâh Azza wa Jalla yang telah memilih para raja, penguasa dan pelindung umat manusia berdasarkan perbuatan rakyatnya, bahkan seakan perbuatan rakyat tergambar dalam prilaku pemimpin dan penguasa mereka. Jika rakyat istiqamah dan lurus, maka akan lurus juga penguasa mereka. Jika rakyat adil, maka akan adil pula penguasa mereka. Namun jika rakyat berbuat zhalim, maka penguasa mereka juga akan berbuat zalim pula. Jika menyebar tindakan penipuan di tengah-tengah rakyat, maka demikian pula pemimpin mereka. Jika rakyat bakhil dan tidak menunaikan hak-hak Allâh Azza wa Jalla yang ada pada mereka, maka para pemimpin juga akan bakhil dan tidak menunaikan hak-hak rakyat yang ada pada mereka. Jika dalam bermuamalah, rakyat mengambil sesuatu yang bukan haknya dari orang-orang lemah, maka pemimpin mereka juga akan mengambil sesuatu yang bukan haknya dari rakyatnya serta akan membebani mereka dengan berbagai beban tugas yang berat. Semua yang diambil oleh rakyat dari orang-orang lemah maka akan diambil paksa oleh para pemimpin dari mereka. Jadi (karakter) para penguasa itu tampak jelas pada prilaku rakyatnya.

Jelas bukan hikmah ilahiyah, mengangkat penguasa bagi orang jahat dan buruk perangainya kecuali dari orang yang sama dengan mereka.

Ketika masa-masa awal Islam berisi generasi terbaik, maka demikian pula pemimpin-pemimpin kala itu. Ketika rakyat mulai rusak, maka pemimpin mereka juga mulai rusak. Jelas tidak sejalan dengan hikmah Allâh, (jika) pada zaman ini kita dipimpin oleh pemimpin yang seperti Mu'âwiyah dan Umar bin Abdul Azis rahimahullah, apalagi dipimpin oleh pemimpin sekelas Abu Bakar Radhiyallahu anhu dan Umar Radhiyallahu anhu. Akan tetapi pemimpin kita itu sesuai dengan kondisi kita. Begitu pula pemimpin orang-orang sebelum kita sesuai dengan kondisi rakyat pada saat itu. Masing-masing dari kedua hal tersebut merupakan sebab akibat dan tuntunan hikmah Allâh Azza wa Jalla .

Orang yang punya kecerdasan, apabila merenungkan masalah ini, maka dia akan menemukan bahwa hikmah ilahiyah itu senantiasa berjalan seiring denganqadha'danqadar, baik yang tampak maupun yang tidak tampak, begitulah pula dalam masalah penciptaan dan perintah agama. Jangan sampai Anda menduga dan menyangka bahwa ada diantaraqadhadantaqdirAllâh yang tidak mengandung hikmah. Bahkan semuaqadhadanqadarAllâh itu terjadi sesuai dengan hikmah dan kebenaran yang paling sempurna. Tetapi, karena keterbatasan dan kelemahan akal manusia, sehingga mereka tidak sanggup memahaminya, sebagaimana mata kelelawar karena lemahnya ia tidak sanggup melihat sinar matahari. Akal-akal yang lemah ini, apabila berjumpa dengan kebatilan, akan menerima dan menyebarkannya, sebagaimana kelelawar yang terbang dan pergi saat kegelapan malam telah datang.

Cahaya siang menyilaukan pandang kelelawar
Pantasjika iaditemanioleh gelapmalam yang gulita"[21].


Oleh karena itu, merupakan sebuah kesalahan jika kezhaliman penguasa Muslim di atasi dengan cara pemberotakan dan perlawanan, bahkan agama Islam yang mulia ini senantiasa menyerukan untuk taat selama ia tidak memerintahkan kepada kemaksiatan. Jika ia memerintahkan kepada kemaksiatan maka rakyat tidak disyari'atkan untuk mentaatinya, sebagaimana tidak disyari'atkan untuk memberontak dan melawannya meskipun penguasa tersebut tergolong orang jahat.

Dari Hudzaifah Radhiyallahu anhu bahwasanya Rasûlullâh Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda :

يَكُونُ بَعْدِي أَئِمَّةٌ لَا يَهْتَدُونَ بِهُدَايَ، وَلَا يَسْتَنُّونَ بِسُنَّتِي، وَسَيَقُوْمُ فِيْهِمْ رِجَالٌ قُلُوبُهُمْ قُلُوبُ الشَّيَاطِينِ فِي جُثْمِانِ إِنْسِ قَالَ : قُلْتُ: كَيْفَ أَصْنَعُ – يَارَسُوْلَ اللهِ- إِنْ أَدْرَكَنِي ذَلِكَ؟ قَالَ: «تَسْمَعُ وَتُطِيعُ لِلْأَمِيرِ ، وَإِنْ ضَرَبَ ظَهْرَكَ، وَأَخَذَ مَالَكَ، فَاسْمَعْ وَأَطِع

Nanti setelahku, akan ada pemimpin-pemimpin yang tidak mengambil petunjuk dari petunjukku dan tidak pula melaksanakan sunnahku. Nanti akan ada di tengah-tengah mereka orang-orang yang berhati setan berbadan manusia." Aku berkata, "Wahai Rasûlullâh, apa yang harus aku lakukan jika aku mendapatkan zaman seperti itu?" Beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, "Dengarlah dan ta'atlah kepada pemimpinmu, walaupun mereka menyiksa punggungmu dan mengambil hartamu.Tetaplah mendengar dan ta'at kepada mereka."[22]

Muhammad Haqqiy mengatakan ketika menafsirkan firman Allah Azza wa Jalla :

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الْأَمْرِ مِنْكُمْ

Wahai orang-orang yang beriman, taatilah Allâh dan taatilah Rasul (nya), dan ulil amri di antara kamu.[An-Nisa'/4:59]

Dia mengatakan, "Ketahuilah bahwa para pemimpin itu sesuai dengan perbuatan para rakyatnya, baik dan buruknya. Diriwayatkan bahwa ada yang mengatakan kepada al-Hajjâj bin Yûsuf, "Kenapa kamu tidak berbuat adil sebagaimana Umar padahal engkau mendapati pemerintahan beliau Radhiyallahu anhu? Apakah engkau tidak melihat keadilan dan kebaikannya?' Ia menjawab, 'Jadilah kalian seperti Abu Dzar Radhiyallahu anhu , maka aku akan seperti Umar."

Jika dalam kondisi seperti di atas tidak disyari'atkan memberontak lalu bagaimana dengan keadaan kita?


Footnote

[1]Silsilah ad-Dhâ'ifahkarya Syaikh Al-Albâni (320)
[2]Majmû'al-Fatâwâ (16/337)
[3]Majmû'al-Fatâwâ(16/337)
[4]Kasyfu al-Khafâ1/148)
[5]Ad-Durru al-Mantsûrmilik as-Suyuthi (3/358)
[6]Sirâjul Mulûk(2/467)
[7]Diriwayatkan oleh Abu Nu'aim (6/30), dan Baihaqi dalamSyu'abul Imân(7389), dan Abu Amr ad-Dani dalamas-Sunan al-Wârid fil Fitan(299)
[8]HR Muslim (1819)
[9]Mirqatul Mafâtih Syarh Misykâtul Misbâh(11/131
[10]Faidhul Qadîr(1/265)
[11]Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Dunya dalamal-Uqûbât, no. 52 dengan sanad shahih dan dalam satu riwayat dalam Thabaqât Ibnu Sa'ad, 7/164 dan dalam kitabJumal min Ansâbil Asyrâf, Bilâdzri (7/394) dengan sanad yang shahih
[12]Dinukilkan dalam kitabThabaqâtIbnu Sa'ad (7/164), dan dalam kitaJumal min Ansâbil Asyrâfkarya Bilâdzri (7/394) dengan sanad yang shahih
[13]Diriwayatkan oleh Tirmidzi dengan sanad yang shahih
[14]Terdapat dalam kitabas-Siyarkarya ad-Dzahabi (4/343), dishahihkan oleh Imam al-Albâni.
[15]Lihatlah tentang ini dengan sanad shahih dari Thâwus pada kitabal-Amâli fi Atsâri Shahâbah, Abdurrazaq; kitabal-Imân, karya Ibnu Abi Syaibah; at-Thabaqat, ibnu Sa'ad; Syarhu Ushul I'tiqad, al-Lalika'i.
[16]Dinukilkan oleh ad-Dani dalamas-Sunanul Wâridah fil Fitan(300),dan Ibnu 'Asakir dalamTârîkh Dimasyqa(39/477)
[17]Dinukilkan oleh al-Baihaqi dalamSyu'ab(7390)
[18]Ad-Dâ' wad Dawâ(75)
[19]Badâ'ius Sulûk Fi Thabâ'iul Mulûk(1/235)
[20]Khutbah yang kesepuluh dalam KitabDhiyâ'ul Lâmi'
[21]Miftâh Dâris Sa'âdah(1/253)


Sumber: almanhaj.or.id

SHARE:
Tags
Berita Terkait
Tidak Datang Suatu Zaman, Kecuali Lebih Buruk Dari Sebelumnya

Tidak Datang Suatu Zaman, Kecuali Lebih Buruk Dari Sebelumnya

Benarkah Umar Bin Khattab Pernah Dimarahi Istrinya ?

Benarkah Umar Bin Khattab Pernah Dimarahi Istrinya ?

Wanita Menjadi Pemimpin, Bagaimana Pandangan Islam ?

Wanita Menjadi Pemimpin, Bagaimana Pandangan Islam ?

Do'akan Kebaikan bagi Para Pemimpin

Do'akan Kebaikan bagi Para Pemimpin

Bagaimana Menyikapi Pemimpin yang Dzalim

Bagaimana Menyikapi Pemimpin yang Dzalim

Kewajiban Taat Kepada Pemimpin

Kewajiban Taat Kepada Pemimpin

Komentar
Berita Terbaru