Sebelas Rambu yang Wajib Diketahui Bagi Seorang Pemimpin

Oleh : Ustadz Abu Ihsan al-Atsari
Rio Agusri - Sabtu, 27 Januari 2024 17:49 WIB
Sebelas Rambu yang Wajib Diketahui Bagi Seorang Pemimpin
Ilustrasi (foto int)

Kedelapan. Pemimpin Jangan Menerima Hadiah.
Jika ada rakyat yang memberikan hadiah kepada seorang pemimpin, hampir bisa dipastikan, dibalik itu mereka ingin agar sang pemimpin dekat dengannya dan menyukai dirinya. Maka seorang pemimpin janganlah menerima hadiah-hadiah semacam ini. Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

الهَدِيَّةُ إِلَى الإِمَامِ غَلُوْلٌ

Hadiah yang diberikan kepada seorang pemimpin adalah pengkhianatan.[16]

Beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam juga bersabda:

هَدَايَا العُمَّالِ غَلُوْلٌ

Hadiah-hadiah yang diberikan kepada penguasa adalah pengkhianatan. [17]

Demikian juga, semua orang yang bertugas melayani urusan kaum muslimin, ia tidak boleh menerima hadiah dan jangan ada sedikitpun yang disembunyikannya. Berapapun hadiah yang diterimanya, harus ia serahkan kepada pemerintah. Jangan ada sedikitpun yang dijadikan sebagai milik pribadi. Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam pernah bersabda:

مَنِ اسْتَعْمَلْنَاهُ مِنْكُمْ عَلَى عَمَلٍ فَكَتَمْنَا مِخْيَطًا فَمَا فَوْقَهُ كَانَ غُلُولًا يَأْتِي بِهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ.

Barang siapa di antara kalian yang kami tugaskan untuk mempimpin lalu ia menyembunyikan sehelai benang atau lebih, maka pada hari Kiamat nanti ia akan datang membawa benang itu sebagai seorang pengkhianat.[18]

Salah seorang gubernur Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam ada yang berkata: "Yang ini untuk kalian dan yang ini dihadiahkan untukku," lantas Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

أَمَّا بَعْدُ فَمَا بَالُ الْعَامِلِ نَسْتَعْمِلُهُ فَيَأْتِينَا فَيَقُولُ هَذَا مِنْ عَمَلِكُمْ وَهَذَا أُهْدِيَ لِي أَفَلَا قَعَدَ فِي بَيْتِ أَبِيهِ وَأُمِّهِ فَنَظَرَ هَلْ يُهْدَى لَهُ أَمْ لَا.

Amma ba'du, mengapa pejabat yang kami angkat berkata: "Yang ini dari hasil pekerjaan kalian, sementara yang ini khusus dihadiahkan untukku?" Mengapa ia tidak duduk saja di rumah ayah atau ibunya, lalu ia tunggu, apakah masih ada orang yang mau memberikan hadiah untuknya ataukah tidak? [19]

Kesembilan. Seorang Pemimpin Harus Mengambil Penasihat dari Kalangan Orang-Orang Shâlih.
Seorang pemimpin harus mengambil penasihat dari kalangan orang-orang shâlih yang mampu mengingatkannya saat ia lupa, dan membantunya saat teringat, selalu mengawasinya agar bersikap baik dan berlaku adil, memberinya nasihat dan pengarahan, serta mendorongnya untuk berbuat baik dan menjaga ketakwaan. Dengan cara ini, maka semua urusan pasti lurus.

Adapun penasihat yang buruk, tidak ada kebaikan yang dapat diharapkan darinya. Karena mereka tidak dapat membantu untuk berbuat kebajikan, bahkan akan membantu setan untuk menggelincirkan si pemimpin. Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

مَا بَعَثَ اللَّهُ مِنْ نَبِيٍّ وَلَا اسْتَخْلَفَ مِنْ خَلِيفَةٍ إِلَّا كَانَتْ لَهُ بِطَانَتَانِ بِطَانَةٌ تَأْمُرُهُ بِالْمَعْرُوفِ وَتَحُضُّهُ عَلَيْهِ وَبِطَانَةٌ تَأْمُرُهُ بِالشَّرِّ وَتَحُضُّهُ عَلَيْهِ فَالْمَعْصُومُ مَنْ عَصَمَ اللَّهُ تَعَالَى.

Tidak ada nabi yang Allah utus, dan tidak pula ada seorang pemimpin yang Dia angkat, kecuali mereka mempunyai dua jenis teman dekat. Teman yang menyuruhnya untuk berbuat baik serta selalu membantunya dalam berbuat baik, dan teman yang menyuruhnya berbuat untuk jahat serta selalu mendorongnya untuk melakukan tindak kejahatan. Orang yang selamat, ialah orang yang memang dijaga Allah Subhanahu wa Ta'ala .[20]

Kesepuluh. Seorang Pemimpin Harus Bersikap Ramah Terhadap Rakyat.
Sebagaimana dikatakan para ulama salaf, seorang pemimpin harus bersikap sebagai anak terhadap orang-orang tua, sebagai saudara untuk yang sebaya, dan sebagai orang tua terhadap anak-anak. Ia harus bersikap lembut, ramah serta menyayangi mereka, dan tidak membebaninya dengan urusan yang tidak mereka sanggupi. Dengan sikap ini, sebagai pemimpin, ia berhak mendapat doa Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam :

اللَّهُمَّ مَنْ وَلِيَ مِنْ أَمْرِ أُمَّتِي شَيْئًا فَشَقَّ عَلَيْهِمْ فَاشْقُقْ عَلَيْهِ وَمَنْ وَلِيَ مِنْ أَمْرِ أُمَّتِي شَيْئًا فَرَفَقَ بِهِمْ فَارْفُقْ بِهِ

Ya Allah, bagi siapa yang menjadi penguasa umatku, lalu ia menyulitkan mereka, maka timpakanlah kesulitan kepadanya. Dan barang siapa yang menjadi penguasa umatku, lalu ia menyayangi mereka, maka sayangilah ia.[21]

Kesebelas. Jujur Menjalankan Semua Urusan yang Berkaitan dengan Kaum Muslimin.
Dalam hal ini, seorang pemimpin harus membantu ahli sunnah serta membasmi ahli bid'ah dan pelaku kerusakan, mengibarkan panji amr ma'ruf nahi mungkar serta panji-panji jihad fi sabilillah, berusaha dengan sekuat tenaga untuk menjaga kehormatan, agama, harta kaum muslimin dan lain-lain.

Ia juga harus mengevaluasi kinerja para pejabat dan pegawainya secara kontinyu, memperhatikan cara mereka menjalankan tugas, dan sikap mereka terhadap rakyat. Ia juga harus memilih jalan terbaik dalam menyelesaikan semua problem masyarakat. Para bawahan juga diharuskan memberi laporan-laporan secara jujur dan rinci mengenai tugas yang telah dilakukan. Sesungguhnya ia akan mempertangungjawabkan semua tugas dan kewajibannya di hadapan Allah Subhanahu wa Ta'ala .

Maraji`:

Al-Adabul-Kabir wa Adabush-Shaghir, Ibnul-Muqaffa'.
Al-Adâbusy-Syar'iyyah, Ibnu Muflih.
Al-Ahkâmu as-Sulthaniyyah, al-Mawardi.
Ath-Thuruqul-Hukmiyah, Ibnul-Qayyim.
Fathul-Bâri Syarah Shahîh al-Bukhâri, Ibnu Hajar al-Asqalâ
Jami' Bayanil 'Ilmi wa Fadhlihi, Ibnu Abdil Bar.
Madârikun-Nazhar fis-Siyasatisy-Syar'iyyah, 'Abdul-Mâlik ar-Ramadhâ
Mausu'ah al-Adabul-Islamiyyah, 'Abdul-'Aziz bin Fathis Sayyid Nadâ`.
Shahîh Jami' ash-Shaghir, Syaikh Muhammad Nashiruddin al-Albâ
Sirah Nabawiyah Shahîhah, Dr.Akram Dhiya' al-'Umari.
Sirâjul-Mulûk, ath-Thurthuusyi.
Silsilah Ahâdits Shahîhah Syaikh Muhammad Nashiruddin al-Albâni, disusun oleh Syaikh Abu 'Ubaidah Masyhur Hasan Salman.
Syarah Shahîh Muslim an-Nawawi.
Tafsîr Adhwâ`ul Bayân, Muhammad al-Amin asy-Syanqithi.
Tafsîr al-Qurthubi.
Tafsîr Ibnu Katsîr.

_______
Footnote

[1] HR al-Bukhâri, 4425, 7099, dari Abu Bakrah Radhiyallahu anhu.
[2] HR al-Bukhâri, 7148, dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu.
[3] HR Muslim, 1826, dari Abu Dzar Radhiyallahu anhu.
[4] HR al-Bukhâri (7147) dan Muslim (1652), dari 'Abdur-Rahmân bin Samurah Radhiyallahu anhu.
[5] HR al-Bukhâri (7149) dan Muslim (1733), dari Abu Musa Radhiyallahu anhu.
[6] Lihat Bahjatu Qulubil Abrâr, Syaikh Abdur-Rahmân as-Sa'di, hlm. 150-151.
[7] Lihat Tafsir al-Qurthubi, IX/238.
[8] Diriwayatkan Ibnu Sa'ad dalam Thabaqât al-Kubra, IV/335.
[9] Jami' Bayanil-'Ilmi wa Fadhlihi, I/176.
[10] HR Muslim, 1827, dari 'Abdullah bin Amr Radhiyallahu anhu.
[11] HR al-Baihaqi dalam kitab al-Kubra (X/96) dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu. Hadist ini terdapat dalam Kitab Shahîh al-Jâmi' (5695).
[12] HR Ahmad (IV/231), at-Tirmidzi (1332) dari 'Amr bin Murah. At-Tirmidzi (1332) dari Abu Maryam. Hadits ini terdapat dalam Kitab Shahîh al-Jâmi' (5685).
[13] HR Muslim, 142, dari Ma'qal bin Yasâr Radhiyallahu anhu.
[14] HR al-Bukhâri (7150, 7151) dan Muslim (142).
[15] HR Muslim, 55, dari Tamim bin Aus Radhiyallahu anhu.
[16] HR ath-Thabraani dalam kitab al-Kabir (XI/11486) dari Ibnu Abbas Radhiyallahu anhu. Hadits ini terdapat dalam Kitab Shahîh al-Jâmi' (7054).
[17] HR Ahmad (V/424), al-Baihaqi (X/138) dari Abu Humaid Radhiyallahu anhu . Hadits ini terdapat dalam Kitab Shahîh al-Jâmi' (7071).
[18] HR Muslim, 1833, dari 'Adi bin Umair Radhiyallahu anhu.
[19] HR al-Bukhâri (1500, 6979) dan Muslim (1832) dari Abu Humaid as-Sâ'di.
[20] HR al-Bukhâri, 6611, 7198, dari Abu Sa'id Radhiyallahu anhu.
[21] HR Muslim, 1848, dari 'Aisyah Radhiyallahu anha.

Sumber: almanhaj.or.id

SHARE:
Tags
Berita Terkait
Komentar
Berita Terbaru